Home » , » ISLAM DAN IPTEK

ISLAM DAN IPTEK

Written By Arifin Budi Purnomo on Minggu, 09 Desember 2012 | 21.53.00


 ISLAM DAN IPTEK
 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imron [3] : 190-191)
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Mujadillah [58] : 11 )
Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda/sinyal) KeMahaKuasaan dan Keagungan Allah SWT. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasulullah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu dan segala eksistensi). Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.
Karena alam semesta –yang dipelajari melalui ilmu pengetahuan–, dan ayat-ayat suci Tuhan (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAAW — yang dipelajari melalui agama– , adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan perwujudan/tajaliyat) Allah SWT, maka tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal dari satu Sumber yang Sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta.
Potret Ilmu Pengetahuan Modern

Di dalam filsafat ilmu pengetahuan terdapat cabang ontologi (cabang  kajian yang berkaitan dengan obyek), epistemologi (cabang kajian yang berkaitan dengan metodologi) dan aksiologi (cabang kajian yang berkaitan dengan tujuan). Di sini, gambaran ilmu pengetahuan modern (baca: barat) akan dipotret dari tiga titik sudut ini disertai dengan dampak yang ditimbulkannya.
1. Ontologi
Kajian ontologi ini membahas tentang obyek dari ilmu pengetahuan. Ketika penulis belajar di sebuah perguruan tinggi di Jepang, suatu saat penulis menghadiri kuliah pertama pelajaran fisika yang diberikan oleh seorang guru besar ternama. Pada awal kuliahnya dia menyatakan sebagai berikut. "Butsurigaku wa goritekina mono o atsukau. Fugoritekina mono, tatoeba kamisama no sonzai, wa butsurigaku no manaita ni nosetewa ikenai."
Ungkapan dalam bahasa negeri sakura tersebut berarti, " Obyek ilmu Fisika adalah halhal yang logis. Hal-hal yang tidak logis, misalnya keberadaan Tuhan, tidak boleh dimasukkan ke dalam ilmu Fisika." Ungkapan tersebut jelas membuktikan bahwa obyek ilmu pengetahuan telah dibatasi oleh para ilmuwan itu dengan cara pandang yang mereka miliki. Khun menyebut cara pandang tersebut sebagai paradigm sedangkan Sardar menamakannya world view.
Pada ilmu pengetahuan barat, obyek atau realitas dibatasi pada hal-hal yang bersifat materi. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan cara pandang mereka yang bersifat materialistik-sekularistik. Ilmuwan barat bersikukuh bahwa wilayah ilmu pengetahuan dibatasi pada sesuatu yang riil, pasti dan kuantitatif. Dengan cara pandang ini, ilmuwan barat merasa tidak perlu dan menganggap tidak ada artinya mengembara lebih jauh dengan melihat fenomena alam sebagai kumpulan hikmah.
2. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang metodologi. Di dalam ilmu pengetahuan barat, satu-satunya cara mendapatkan ilmu pengetahuan adalah melalui metoda ilmiah yang ditopang oleh dua tiang utamanya: rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) yang mengatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah rasio. Hanya pengetahuan yang didapat dari akallah, dengan metoda deduktif, yang memenuhi syarat ilmiah.4 Tiang kedua dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626) yang menegaskan bahwa pengalaman empirislah yang menjadi sumber ilmu pengetahuan. Apa-apa yang didapat dari eksperimen empiris, melalui metoda induktif, yang dapat dikatakan ilmiah.5 Menganggap bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui penalaran rasional dan pengalaman empiris berarti tidak membuka ruang bagi peran wahyu ilahi dalam wilayah ilmu pengetahuan.

3. Aksiologi
Aksiologi adalah kajian yang menyangkut tujuan. Di dalam wilayah kajian ini dibahas tentang manfaat dan mudhorot yang dapat ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan barat dimanfaatkan untuk sekadar keuntungan yang bersifat materi dan duniawi. Francis Bacon, misalnya, mengatakan bahwa ilmu pengetahuan digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia. Dia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan hanya bermanfaat jika nampak pada kekuasaan manusia. Dengan lantang dia melontarkan ungkapan yang bersifat eksploitatif bahwa akhir dari pondasi kita adalah ilmu pengetahuan mengenai sebab pergerakan benda-benda dan memperluas batasan manusia untuk menaklukkan semua hal yang mungkin. Ilmu pengetahuan barat tidak memiliki bingkai nilai yang jelas tentang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan telah menjadi nilai itu sendiri. Oleh karenanya, pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk penindasan sesama manusia serta eksploitasi besar-besaran terhadap alam dapat kita lihat sebagai akibat kekosongan ilmu pengetahuan terhadap nilai-nilai.

Beberapa Pandangan Ilmu Pengetahuan dan Islam

Ziauddin Sardar membagi pendapat ilmuwan Muslim tentang hubungan ilmu pengetahuan dan Islam ke dalam 3 kelompok.
Pertama, kelompok yang menilai bahwa ilmu pengetahuan adalah netral dan universal. Mereka mencari rumusan-rumusan dalam Al-Qur'an yang cocok dengan hasil penemuan ilmu pengetahuan modern. Mereka menyimpulkan bahwa rumusan-rumusan dalam Al-Qur'an sangat cocok dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Pendekatan ini terlihat kental dari karya Maurice Bucaille; The Bible, The Qur'an and Science yang tersebar luas. Kelompok ini kadang ada yang menyebut dengan Buchaillisme. Pesan yang disampaikan adalah dengan kecocokan ini membuktikan bahwa Al-Qur'an merupakan kitab yang memiliki kebenaran hakiki yang datang dari pencipta alam semesta. Pendekatan ini terlihat memberikan manfaat yang besar dengan pesan yang disampaikan tersebut. Namun, menurut Sardar, ada yang perlu diwaspadai dengan pendekatan ini, yakni Al-Qur’an dapat dilihat sebagai kitab ilmu pengetahuan dan bukan kitab hikmah. Umat Islam membaca Al-Qur’an lebih berusaha untuk menafsirkan ilmu pengetahuannya saja dengan menipiskan perannya sebagai petunjuk hidup. Bahaya lain yang perlu diwaspadai, masih menurut Sardar, adalah tujuan pengembangan iptek dibatasi pada pembuktian rumusan-rumusan ilmu pengetahuan yang ada di dalam Al-Qur’an sehingga tidak menuntun umat Islam untuk bersifat kreatif dan inovatif di rimba ilmu pengetahuan yang sangat luas. Al-Qur’an harus dijadikan titik tolak pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sebagai muara akhir pengembangan ilmu pengetahuan.
Kedua, kelompok yang masih mempertahankan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan, namun fungsinya harus diubah diarahkan menuju cita-cita Islam dan masyarakatnya. Kelompok ini, menurut Sardar, dipelopori oleh Z.A. Hasyimi dari Pakistan. Hasyimi menganjurkan agar para ilmuwan Muslim mampu menghilangkan unsur-unsur yang tidak diinginkan dalam ilmu pengetahuan barat. Mereka harus memahami sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan serta memiliki kesadaran akan masa depan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan Muslim yang dapat dikatagorikan dalam kelompok ini, termasuk peraih hadiah Nobel Abdus Salam. Dia pernah menegaskan "Saya tidak dapat melihat perbedaan ruh dalam aljabar modern dengan yang dilakukan para ilmuwan Muslim, atau tradisi modern optika dengan Alhazen atau antara pengamatan Razi dengan perluasan modernnya." Sardar mengkritisi kelompok ini dengan menyatakan bahwa kelompok ini terlalu mengecilkan peran ilmu pengetahuan dalam perubahan masyarakat. Dia mengkhawatirkan, dengan pendekatan ini ilmu pengetahuan modern yang berakar dari sistem nilai barat dapat menghancurkan sistem nilai yang ada dalam masyarakat Islam, termasuk terjadinya konflik tujuan antara tujuan ilmu pengetahuan barat dengan tujuan masyarakat Islam.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang tidak yakin dengan netralitas dan universalitas ilmu pengetahuan. Mereka berpendapat bahwa ilmu pengetahuan barat dibangun dengan cara pandang dan filosofi barat termasuk dalam memandang realitas.
Kelompok ini berpendapat konstruksi ilmu pengetahuan perlu dibangun kembali dengan cara pandang yang Islami. Sardar termasuk yang cenderung dengan kelompok ini. Deliar Noer kurang setuju dengan pendapat kelompok ini. Dia menyatakan bahwa langkah ini terlalu rumit, memakan waktu panjang dan memiliki tantangan yang sangat besar.
Demikianlah 3 bentuk usaha yang telah dilakukan para ilmuwan Muslim dalam menyikapi ilmu pengetahuan dikaitkan dengan nilai-nilai Islam yang diyakininya. Tiga bentuk ini, tentu saja, masih mungkin terus berkembang dengan semakin tingginya kesadaran umat Islam akan keislamanya.

Islam dan Teknologi

Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT dan mempunyai nilai-nilai yang mampu hidup dalam segala zaman maupun tempat. Misalnya, jika orang dahulu ketika akan menunaikan ibadah haji, harus menempuh perjalanan membutuhkan waktu sekian lama, tetapi berkat perkembangan iptek, maka jarak antara Indonesia dengan Makkah hanya dapat ditempuh kurang lebih 9 jam.
Demikian pula perkembangan teknologi komunikasi. Jika orang dahulu akan menyampaikan kabar, harus bejalan jauh agar berita didengar oleh orang yang dituju, sekarang cukup dengan mengangkat telepon, maka kabar itu sudah sampai. Sarana dan prasarana yang dihasilkan iptek tersebut mempermudah dalam mekanisme pengelolaan berbagai bidang. Kemajuan yang demikian bukan lagi searah dengan perkembangan akal fikir manusia, tetapi juga berbanding lurus dengan ajaran agama. Islam sebagai agama memberikan motivasi kuat dalam mencerdaskan akal budinya. Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang ’matre’ dan sekular, maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin).

Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger