Home » , » Awal Kisah Pencarian Hikmah Sang Penakluk Mimpi

Awal Kisah Pencarian Hikmah Sang Penakluk Mimpi

Written By Arifin Budi Purnomo on Selasa, 29 Januari 2013 | 06.18.00

Awal Kisah Pencarian Hikmah Sang Penakluk Mimpi

Assalamu’alaikum wr wb
Sahabat yang berbahagia,

Ini adalah sepotong kisahku tatkala aku memulai hijrahku ke kota Satria, kota Purwokerto. Demi memenenuhi sebuah kewajiban seorang insan yakni untuk menutut ilmu, aku memberanikan diri untuk melangkahkan kaki ke kota ini. Sebenarnya Purwokerto bukanlah kota tujuan utamaku untuk menuntut ilmu, melainkan bisa disebut sebagai kota dimana aku terdampar  (pemikiran awalku). Bagaimana tidak, dulu aku begitu mengidolakan kota Malang Jawa Timur untuk persinggahanku dalam menuntut ilmu. Namun sepertinya takdir  tidak begitu berpihak padaku. Aku gagal SNMPTN Undangan dan SNMPTN Tulis yang mana kala itu aku memilih UB Malang selalu sebagai pilihan pertama. Beruntungnya aku masih diterima di pilihan kedua, yakni UNSOED yang telah menerima  pinanganku (hag hag). Mungkin Allah Yang Maha Tau atas segala ilmunya sudah memberi yang terbaik bagiku. Namun aku belum bisa menerima dengan sepenuhnya. Aku masih mencari sebuah hikmah jawaban atas keputusanNya. Dan disinilah aku akan selalu belajar menyimak,  mendengarkan, melihat dan berfikir akan ayat-ayatNya.

Sore itu matahari mulai bersembunyi di ufuk barat. Kereta Logawa kelas ekonomi yang aku naiki, telah sampai ke kota tujuan, Purwokerto. Suasana sedih dan gembira menyelimuti petang itu. Bagaimana tidak, aku diterima di perguruan tinggi negri di Purwokerto yakni Universitas Jendral Soedirman. Akan tetapi aku kurang puas akan hal tersebut, karena sebelumnya aku sangat berobsesi untuk masuk Universitas Brawijaya Malang. Namun, apa boleh buat, Allah telah berkehendak lain, Ia telah memilihkanku UNSOED sebagai tempat dimana aku menimba ilmu.

Hari berikutnya mulai berlalu, aku harus bisa bersikap lebih dewasa dalam menghadapi apa yang telah ditetapkanNya. Sekarang aku akan mencari hikmah dibalik lika-liku kehidupan ini.

Ternyata masih ada sedikit keberuntungan yang mengikutiku. Tak disangka aku mempunyai saudara yang juga kuliah di UNSOED, mbak Wiwin namanya. Mbak Wiwin adalah mahasiswa Fakultas Biologi yang telah study sampai semester lima. Untungnya lagi, ia mengikuti kepanitiaan dalam acara penerimaan mahasiswa baru. Berkat informasi darinya, aku dapat dengan mudah melakukan registrasi daftar ulang maba.

Setelah proses registrasi selesai, aku menelepon seorang teman ayahku yang satu yayasan ketika di Solo. Walaupun aku belum pernah ketemu dengannya sebelumnya, beliau menyambutku dengan sangat ramah. Beliau adalah pak Suradi, seorang polisi namun bukan sekedar polisi, mealinkan beliau adalah para pencetak polisi atau gurunya para polisi (hehe). Untuk sementara waktu aku ditawari untuk menginap dirumahnya, komplek Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto. Disana aku dan bapakku diperlakukan bagaikan keluarga sendiri, dan ini berkat komitmen yayasan yang kami ikuti. Makan, minum, tempat tidur, dan segala fasilitas lainya disediakan bagi kami tanpa tanggung-tanggung. Aku sangat berterimakasih padanya, dan sampai sekarang ia bagaikan orang tuaku di Purwokerto. Aku tak jarang main ke SPN, keluar masuk cukup bebas, dan bergaul dengan putra-putinya yang masih kecillagi lucu (hehe). Sejak saat itu, aku mulai menyadari rencana indah yang telah Allah gariskan padaku. Subhanallah.. :)

Sore hari setelah aku beristirahat, aku dan pak Suradi keliling sekitar kampus hijau pertanian UNSOED untuk mencari tempat kostsan. Dengan langkah yang penuh pengharapan aku berdo’a dalam hati “Ya Allah Tuhan Ynag Maha Mengetahui, dengan penuh kerendahan hati, hamba memohon pertolongan padamu agar menunjukkan tempat terbaik bagi agama dan akademikku, Aamiin” (Do’a tersebut semakna dengan do’a yang selalu aku panjatkan ketika test masuk perguruan tinggi).

Rumah-demi rumah kost telah kami lewati untuk memilih tempat kost yang cocok dengan pertimbangan suasana hatiku. Harganya bervariasi tergantung pada kondisi. Mulai dari 1.5 juta sampai 2 jutaan pertahun, atau bahkan 3 juta lebih setahunya juga ada. Tapi anehnya, tak satupun kostsan yang mampu menarik perhatianku.

Aku merasa agak bersikap mempersulit pak Suradi yang telah meluangkan waktu untuk menemaniku mencari tempat kost. Bukan niatku untuk mempersulit sebernarnya,  akan tetapi suasana hatiku tidak satupun ada yang cocok. Berhubung waktu telah menunjukkan waktu ashar, kami memutuskan untuk singgah ke sebuah masjid terdekat. Betapa takjupnya aku ketika dihadapkan pada sebuah masjid yang begitu indah (belakangan ini aku ketahui bernama Fatimatuzzahra, secantik namanya hehe). Ornamen ysng begitu tertata rapi, desain yang unik, suasana sejuk, serta kontruksi bangunan yang begitu kokoh semakin membuatku terjerat oleh magnet keindahan masjid itu. Namun sayang, tatkala itu aku belum berkesempatan untuk melakukan sholat ashar disana, karena aku sudah menjamak khosor sholat ketika di kereta.

Kembali lagi di depan masjid itu aku memanjatkan do’a agar Allah segera memilihkan tempat kost terbaik bagiku. Aku berdo’a, “Ya Allah hamba benar-benar berserah diri padaMu, hamba mohon setelah ini Engkau berkehendak yang terbaik bagi hamba menurut segala pengetahuanMu, Aamiin”.

Setelahnya, kami berniat untuk mencari kostsan lagi dengan penuh harapan segera mendapatkan yang terbaik dari segi agama dan akademik. Tak disangka dan baru teringat oleh pak Suradi, bahwa dimasjid itu ada semacam pesantren umum bagi para mahasiswa. Aku terdiam dan berfikir sejenak, bahwa ini adalah jawaban do’a yang telah aku panjatkan tadi. Betapa aku bersyukurnya, betapa Allah sangat menyayangiku dan Maha Menolong pada hambanya. Rencananya begitu sempurnya, memilihkan yang terbaik bagi diriku bagi agamaku, dan bagi akademiku. Subhanallah.. :)

Aku mulai berfikir bahwa dulu aku memang bercita-cita kuliah di Universitas Brawijaya Malang dengan pertimbangan disana sudah banyak komunitas dari daerah asalku dan juga pertimbangan ada sanak keluarga disana walaupun semuanya adalah nasrani (Katolik). Namun Subhanallah, Allah memberi lebih dari itu, teman-teman yang baik, lingkungan yang terjamin agamanya, hingga keluarga kehidupan pesantren.

Tak henti-hentinya aku selalu memanjatkan puji syukur pada Allah atas segala nikmatNya. Mulai kejadian itu aku selalu berusaha untuk bersikap dewasa, selalu berfikir bahwa All ah selalu memberi yang terbaik bagiku, Allah lebih mengetahui segalanya dan Allah maha penolong diatas segala penolong. Aamiin.

Mungkin, sedikit cerita pengalamanku diatas dapat memberi pelajaran bagi diriku khususnya, dan teman-teman pada umumnya dalam menghadapi kesulitan hidup ini. Menatap kedepan penuh optimis dan semangat, serta berkeyakinan yang kuat bahwa Allah akan selalu menolong kepada hambaNya yang berdo’a serta berusaha. Sekian dariku, kurangnya mohon maaf.
 
Selamat berjumpa di ceritaku selanjutnya hehe :)

Assalamualaikum wr wb.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger