Home » , » Pelajaran Berharga dari Ibu Penjual Makanan

Pelajaran Berharga dari Ibu Penjual Makanan

Written By Arifin Budi Purnomo on Senin, 21 Januari 2013 | 06.47.00

By Arifin Budi Purnomo



Ketika itu kebetulan UAS masih berlangsung. Mata kuliah PKN yang  di ujikan pada pagi itu. Persiapan belajar yang bisa dibilang cukup. Cukup kurang penguasaan materi maksudku J, hehe. Namun sesampai di kampus, saya seperti mendapat wangsit. Wangsit apa coba tebak?. Bukan contekan, bukan keenceran saat ngerjain soal, bukan bantuan teman J. Melainkan adalah UAS hari itu bertipe Open Book, alias boleh buka buku saat ujian berlangsung # yee... tepuk tangan. Tidak salah berarti perhitunganku untuk tidur tidur siang kemaren haghag. Namun di tengah kemudahan peraturan UAS itu saya masih menemui kesulitan juga (ini yang salah soalnya apa orangnya ya) :D. Bukan begitu J, masalahnya walaupun ujian sifatnya buka buku, saya waktu itu sama sekali gak bawa buku coba. Hmm tolol banget ya,, sama aja gak open book kalau begitu Z’zz. Walaupun begitu, bukan menjadi masalah bagiku untuk semangat mengerjakan soal yang sudah di depan mata (Sok pinter hiks hik). Dengan waktu kurang lebih satu jam empat puluh menit, cukuplah bagiku untuk nyelesaikan soal itu (padahal temen lain setengah jam udah pada keluar). Akhirnya dengan sekuat tenaga seperti kuda, aku berhasil menjawab semua soal yang notabene soalnya Cuma 4 buah dan semuanya mengarang bebas haghag. Tapi gak papa,toh menurutku itu semua adalah perjuangan j. Ok?

Sehabis UAS hari itu selesai, aku langsung cabut keluar. Di pertengahan perjalanan aku baru inget kalo sepeda si Arif temenku ketinggalan di warung dari kemarin waktu makan siang #dasar pelupa :D. Aku cukup panik waktu itu, karena hampir 90% dipastikan hilang karena Cuma aku taruh dipinggir jalan. Dengan penuh permohonan pada Allah sang penolong, aku terus berpasrah di sepanjang perjalanan. Sesampai diwarung yang kemaren aku tidak buru-buru nanyain pada ibu warungnya, tapi aku lirik sebentar di deket gerbong ada sepeda biru milik si Arif temenku, :D Hore,,,. Ucapan syukur alhamdulillah aku panjatkan hanya pada Allah kala itu (gak jadi kehilangan uang buat gantiin sepeda hilang maksudku hehe). Namun begitu sampai di beranda depan ibu waarung justru ibu warunglah  yang nanyain sepeda itu padaku. Akupun menanggapinya dengan rasa cukup terharu, eh maksudku rasa malu karena sifat keteledoran dan pelupaku. Ternyata ibu itu yang menyimpanya agar tidak hilang. Akupun langsung mengucapkan terimakasih padanya dan aku pun tak lupa untuk makan di warung ibu tersebut.

Sembari aku makan, aku dan ibu itu biasa ngobrol ngalor ngidul bahasa jawanya hehe. Dari pengalaman sang ibu yang pernah ke luar negri seperti malaysia dan saudi arabia hingga anak kost yang mau masuk islam atau mualaf (subhanallah). Semuanya diceritakan dengan penuh semangat bagaikan dongeng sebelum tidur malahan :D. Bukanya membuatku menjadi mengantuk melainkan aku menjadi sangat bersimpati dengan cerita yang ibu itu paparkan. 

Pengalaman yang cukup panjang hingga usia tua telah mendekatinya. Manis, asam, gurih, pahit, vanilla, coklat, (kayak rasa eskrimlah) telah ia lewati. Namun ditengah masa tuanya yang sekarang, ibu yang memiliki warumg makan bernama MM itu justru menurutku dalam keadaan yang sangat sederhana. Bagaimana tidak, massa tuanya yang seharusnya ia gunakan untuk bersenda gurau dengan para cucunya, justru ia harus masih bergelut dengan dunia bisnis makanan. Hasil bersih yang ia dapatkan perharinya bisa dibilang sangat tidak mencukupi. Bayangkan saya, perharinya ia hanya rata-rata mendapatkan pemasukan bersih sebesar 10 hingga 15 ribu saja. Bahkan ia pernah bercerita, perharinya hanya 5 ribu perak J. Untuk apa coba uang 5 ribu perak itu?.

Ada sesuatu yang mulia dibalik itu. Sang ibu membuka warung makan tersebut bukan niatan mencari keuntungan pribadi yang sebanyak-banyaknya melainkan istilahnya shodakoh. Ketika ada sopir yang kebetulan mampir, ia biasa mempersilakannya untuk makan secara gratis dan dengan porsi mengambil sendiri. Selain itu, jikalau pun ada seseorang yang makan dan dengan terpaksa ia tidak dapat membayar, sang ibu juga mengikhlaskanya, Subhanallah… semua itu saya harap beliau berniat karena Allah SWT. Aamiin

Dari banyak cerita yang ibu ceritakan padaku, ada satu pesan moral yang saya tangkap. Pesan yang tidak tersurat dalam sebuah cerita panjang tersebut adalah “Menjalani kehidupan apapun dengan penuh semangat, iklhas, serta senag hati apapun hasilnya, bukan kesuksesan fisik yang kita tuju, melainkan kesuksesan kita besok di akherat” Subhanallah

Semoga cerita kecil diatas dapat memberi pencerahan pada kita semua dalam memahami arti kehidupan ini serta menjadi pribadi yang senantiasa belajar dari sebuah proses. Salam semangat buat sobat-sobat seperjuangan ya J.

Kurangnya mohon maaf, Assalamualai’kum Wr Wb
Share this article :

2 komentar:

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger