Home » , » Pendidikan Agama Islam / Akhlak Seorang Muslim

Pendidikan Agama Islam / Akhlak Seorang Muslim

Written By Arifin Budi Purnomo on Senin, 28 Januari 2013 | 05.04.00


TUGAS TERSTRUKTUR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
AKHLAK SEORANG MUSLIM






Nama   :
NIM    :
Prodi   :




KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2012



Kata pengantar

Pertama kami panjatkan puji kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmatnya serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulliah tepat pada waktunya dengan tema AKHLAK.
Makalah ini berisikan tentang pembahasan Akhlak baik atau buruk dan bagaimana kita menyikapi penyimpangan terhadap akhlak dan bagaimana akhlak yang baik itu terbentuk dari diri kita. Dan di harapkan makalah ini dapat memberikan informasi yang memuaskan bagi para pembaca.
Kami menyadari bahwa makalah saya masih jauh dari kata sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan kekurangan datangnya dari diri saya  pribadi. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata saya sampaikan terimakasih, dan semoga makalah ini dapat mempunyai manfaat bagi pembacanya. Amin



Purwokerto, 24 September 2012


Penulis


Daftar isi

Kata pengantar........................................................................................................... ii
Daftar isi.................................................................................................................... iii
BAB I : Pendahuluan.................................................................................................   1
1.1     Latar belakang........................................................................................ 1
1.2     Tujuan penulisan.....................................................................................1
BAB II Pembahasan.................................................................................................. 2
2.1 Perumusan masalah.................................................................................. 2
2.2 Analisis masalah......................................................................................  2
2.3 Pemecahan masalah................................................................................. 2
BAB III Penutup....................................................................................................... 8
3.1 Kesimpulan.............................................................................................. 8
Daftar pustaka


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang
            Akhlak pada hakekatnya adalah perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah). Jadi akhlak itu sangat mutlak untuk di miliki oleh para muslimin dan muslimat sekalian, akhlak itu timbul dengan sendirinya, pada diri seseorang, yaitu hasil dari cakupan bercengkrama denagn masyarakat ataupun lingkungannya, karena sesungguhnya akhlak kita akan terbangun dengan baik jika kita berada di lingkungan yang baik dan sebaliknya.
            Dewasa ini, akhlak masyarakat madani di indonesia ataupun lingkungan sekitar mengalami penurunan derastis dikarenakan lingkungan dan cara bergaul mereka yang lupa akan akhlaknya masing-masing, dan itulah yang membuat masyarakat terutama kalangan muda lupa akan tugasnya dan akan akhlaknya.
            Apabila hal ini terus terjadi, maka lambat laun generasi penerus akan menjadi seseorang yang hidup tanpa etika . Jadi, dengan keadaan tersebut, kita sebagai sebagai muslim harus saling mengingatkan satu sama lain terhadap muslim lainnya, karena jika kita tidak bisa mengarahkan muslim lainnya pada saat itu bererti kita bukanlah seorang muslim pada saat itu karena sesungguhnya “Barangsiapa yang memelihara seorang manusia atau sesamanya, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia yang lainnya (QS. Al-Maidah: 32)” Maka rangkulan sesama muslim itu sangatlah penting demi pembenahan karakter dan akhlak seorang muslim.
1.2.      Tujuan Penulisan
            Penulisan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam dan untuk mempelajari sisi dari Akhlak seorang muslimin karena makin berkrmbangnya zaman di era globalisasi akhlak-akhlak untuk kalangan masyarakat sudah tidak terkontrol terutama pada diri individu masing-masing tujuan disini agar orang-orang atau masyarakat dapat merubah akhlak mereka.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1.      Perumusan masalah
1.      Apa definisi dari akhlak itu?
2.      Apakah kutamakan dari akhlak?
3.      Faktor apa sajakah yang mempengaruhi akhlak seseorang?
4.      Ada berapa macam kah akhlak dari seorang manusia ?
5.      Bagaimana cara untuk membangun akhlak?
2.2.      Analisis Masalah
Semakin berkembangnya era globalisasi, perubahan cara pikir generasi muda pun kian kesini kian jauh dari Allah SWT, hal itu dikarenakan sebagian dari mereka sudah lupa akan tugas-tugas mereka mengapa mereka di ciptakan, memang wajar jika mereka berkata “bahwa masa muda itu untuk dinikmati”, tapi menurut saya hal itu salah karena menurut saya hidup itu harus ada yang mengarahkan sebelum kita mengarahkan orang lain. Karena jika kita hidup tiada yang mengarahkan tentunya kita akan kian jauh dari yang namanya Aqidah-aqidah Allah SWT, terutama dalam segi akhlak, semakin mereka bertindak akan semakin lupa mereka akan akhlak yang mereka perbuat dari segi ini lah bahwa hidup didunia ini kita harus bisa terus berdo’a kepada Allah SWT dan mengembangkan akhlakul karimah kita demi kebaikan kita sendiri.
2.3.      Pemecahan Masalah
Akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan jama’ dari “khulqu” dari bahasa Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah).
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah yang artinya
 “Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah (QS. Al-Imran : 110 )”
Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala yang berarti:
"Telah timbul pelbagai kerusakan dan bencana alam di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleb tangan manusia. (Timbulnya yang demikian) karena Allah hendak merusakan mereka sebagai dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertauba)(QS. Ar-Ruum: 41 )".
sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam :
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751).
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan :
“Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”
Sehingga akhlak menjadi tolak ukur  kesempurnaan iman seorang hamba. Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Wallahu Ta’ala a’lam.
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedelapan Belas:
Taqwa dan Akhlak yang Baik
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “ 
  الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : 
     عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ
[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih. Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi di dalam [Al Bir Wash Shilah/1987] dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Al Misykat [5083”
Penjelasannya seperti ini (Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada), yakni di tempat di mana pun engkau berada. Engkau tidak hanya bertakwa kepada Allah di tempat yang di sana orang-orang melihatmu saja. Dan tidak hanya bertakwa kepadaNya di tempat-tempat yang engkau tidak dilihat oleh seorang pun, karena Allah senantiasa melihatmu, di tempat manapun engkau berada. Oleh karena itu, bertakwalah di mana pun engkau berada. (Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya), yakni jadikanlah kebaikan itu mengiringi kejelekan. Jadi, jika engkau melakukan kejelekan, maka iringilah dengan kebaikan. Dan termasuk dalam hal itu –yakni mengiringi kejelekan dengan kebaikan-, adalah engkau bertaubat kepada Allah dari kejelekan tersebut, karena taubat adalah suatu kebaikan.
Jadi hadist di atas telah memberikan beberapa faedahnya, diantaranya yaitu
1.      Perhatian yang besar dari Nabi terhadap umatnya dengan memberikan arahan kepada mereka pada    hal-hal yang mengandung kebaikan dan kemanfaatan.
2.      Wajibnya bertakwa kepada Allah di manapun juga. Di antaranya adalah wajibnya bertakwa baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian, berdasarkan sabdanya, “Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada.”
3.      Isyarat bahwa bila kejelekan itu diiringi dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapuskannya dan menghilangkannya secara keseluruhan.
Selain itu akhlak seseorang itu di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu dari:
1.      Lingkungan (masyarakat)
Karena lingkungan termasuk konsekwensi pada akhlak sesorang, jika Allah mengadzab suatu kaum, maka bisa saja orang yang soleh sekalipun apabila Allah berkehendak, maka ia juga takkan luput dari adzab tersebut. Oleh karena itu, perhatikan dan mawas lingkunganlah selalu agar tidak terjadi apa yang ditakutkan dari buruknya akhlak seseorang.
2.      Sifat sombong
Sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
Description: sombong.gif
Kesombongan adalah menolak kebenaran  dan meremehkan orang lain.”
Karena jika seseorang telah menolak kebenaran, berarti ia telah membuang akhlak baiknya dan menampakkan keburukan akhlaknya.
3.       Ilmu yang benar
Inilah faktor yang paling berpengaruh dalam baiknya akhlak seseorang. Jika seseorang telah membekali dirinya dengan ilmu yang benar, maka konsekwensinya adalah mengamalkan ilmu tersebut. Semakin berilmu seseorang, semakin tawadhu’ pula sifatnya. Dan ini mendorongnya untuk selalu mengintropeksi akhlaknya dengan ilmu-ilmu yang telah ia dapatkan. Dan jika orang itu tak berilmu atau kurang dari segi pengetahuan maka jurang akhlak buruk lah yang telah menantinya.
            Jadi dari tiga faktor di atas kita bisa dapatkan pelajaran bahwa yang dapat mempengaruhi akhlak kita itu yaitu dari lingkungan dekat-dekat kita, maka kita harus senantiasa bisa menjaga diri kita akan hal-hal yang merusaka akhlak kita, mungkin dengan cara menambah ilmu seperti apa yang telah di jelaskan diatas.
Faktor-faktor di atas juga masih menjadi golongan dari bentuk-bentuk atau macam dari akhlak, jadi akhlak terbagi menjadi tigha macam akhlak, yaitu akhlak terhadap Allah SWT, akhlak terhadap lingkungan, dan akhlak terhadap sesama manusia.
1.      Akhlak kepada Allah SWT, yaitu pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat – sifat terpuji. Demikian agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikatpun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.

2.      Akhlak kepada sesama manusia atau umat, yaitu akhlak terhadap sesama umat, tanpa melihat asal-usulnya ataupun merasa bahwa dia bukan siapa-siapa di dalam kehidupannya, karena sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai adanya perbedaan antara umat manusia, karena sebagai umat manusia kita sama yang di ciptakan dari tanah untuk menjadi khlifah di dunia ini. Adapun berikiut akhlak terhadap manusia yang timbul dari diri pribadi baik akhlak yang mulia atau akhlak yang buru seperti :
Amal yang mulia atau baik dari diri seseorang terhadap manusia, dapat dipercaya, pema'af,  manis muka,  Baik, Suka memberi maaf,  menahan diri dari berbuat maksiat, Senang bersaudara, Pemurah, Saling toong menolong, dll. Dan berikut akhlak yang tidak patut di contoh seperti khianat, sombong, kikir, syirik, dusta, berbohong, pendendam, dengki, iri, dan berlebih-lebihan itulah sebagian contoh dari beberapa contoh perbuatan akhlak manusia.

3.      Akhlak terhadap lingkungan Yang dimaksud dengan akhlak terhadap lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Pada dasarnya akhlak yang diajarkan oleh Al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah, kekhalifaan juga mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.

Untuk menanggulangi penyimpangan akhlak agar tidak melebihi ambang batas, perlu kita sebagai sesama mulim atau manusia memberikan pandangan dan membantu membangun  sisi akhlakan-nya, upaya itu bisa di mulai dari beberapa cara yang baik untuk memulai membangun kembali akhlak kita.
1.      Pendekatan Individu untuk Akhidah Akhlak.
Peserta didik memiliki keunikan tersendiri, itulah yang membuat cara berperilku dan cara belajarnya berbeda. Sehingga sebagai guru tidak boleh menyamakan antara yang satu dengan yang lain. Sehingga anak yang mungkin aktif dikelas, tidak bisa dianggap lebih pandai dari anak yang pendiam, terlebih dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.
2.      Pendekatan Kelompok
Model Pendekatan kelompok dalam pelajaran Aqidah Akhlak ini sangat cocok untuk materi-materi sosial seperti zakat, membiasakan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela, mengaplikasikan sikap Ar-rahman dan Ar-rahim dan materi-materi sosial lainnya yang membutuhkan orang lain atau yeman-temannya untuk pengaplikasiannya. Sehingga anak bisa langsung mempraktekkannya,
3.      Pendekatan Edukatif
Pendekatan edukatif sangat penting dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak. Karena model Pendekatan ini adalah merupakan pembiasaan terhadap guru dan peserta didik, terlebih untuk mata Pelajaran Aqidah Akhlak yang berisi nilai-nilai moral dan kepercayaan, maka Pendekatan ini menjadi sangt Penting karena sebagai bentuk aplikasi juga dari berbagai materi Aqidah Akhlak yang telah diajarkan
4.      Pendekatan Vafiatif.
Pendekatan dengancara-cara tertentu agar dalam penyampaiannya tidak monoton, dan agar apa yang di sampaikan menerap dalam dirinya untuk di salurkan di masyarkarat.
5.      Pendekatan Agama
Pendekatan Keagamaan dalam mata Pelajaran Aqidah Akhlak termasuk penting. Karena ketika kita membahas materi-materi misalkan tentang makna Ar-rahman, Ar-rahim, zakat dan yang sejenis, maka secara tidak langsung juga kita telah mengajarkan materi Ilmu Pengetahuan Sosial seperti kasih sayang, tolong-menolong dan sabagainya.


BAB III
PENUTUP

3.1.      Kesimpulan
Jadi kita sebagai muslim yang memiliki jiwa yang bersih atau yang belum sadar pun harus terus mempelajari tentang pentingnya akhlak karena dapat di ketahui bahwa jika kita mempunyai akhlak yang baik, kita dapat bersosialisasi dengan baik antara um at ataupun dengan sang pencipta yaitu Allah SWT, dan sebaliknya jika kita memiliki akhlak yang kurang baik atau tercela di yakini kita akan sulit bersosialisasi dengan sesama ataupun dengan Allah, karena di dalam hatinya mersa dia tidak mempunyai rasa bersalah atupun sikap yang perduli antara sesama ataupun kepada Allah SWT.
Sebagai muslim jika kita melihat seseorang yang menyimpang dari akhlaknya kita mempunyai tiga pilihan yaitu dengan cara mengingatinya, meemberikan pandangan, dan mendo’akan-nya, jika semua hal yang tiga itu terlaksana berarti ke-islaman kita benar tepakai pada saat itu, dan jika tidak berarti kita bukan seorang muslim pada waktu itu, maka kita bisa mulai dari langkah awal denganterus mengingatinya tentang pentingnya akhlak baik, karena semua akhlak akan samngat penting ketika kita di hisab di alam akhir nantinya.




DAFTAR PUSTAKA
Az-Zabidi Imam, 2012, RINGKASAN SAHIH BUKHARI, JABAL, Bandung
dewasastra.wordpress.com
http://islamwiki.blogspot.com/2009/02/dua-macam-akhlak.html#ixzz27Gwbw8Nt




Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger