Home » , » Motivasi / Belajar dari Tukang Pakir

Motivasi / Belajar dari Tukang Pakir

Written By Arifin Budi Purnomo on Kamis, 24 Januari 2013 | 07.25.00

By Arifin Budi Purnomo
Sobatku yang budiman,

Alhamdulillahirobbil’alamin, tiada kata yang lebih mulia melainkan ucapan syukur kita kepada Allah SWT yang mana pada kesempatan yang berbahagia kali ini kita masih dipertemukan dalam rangka mempelajari apa yang Allah turunkan dan apa yang Allah berikan kepada seluruh umat sebagai pedoman kehidupan dunia akhirat yakni mempelajari Al Qur’an.

Sholawat serta salam semoga Allah tetap mencurahkan kepada Rosulullah Muhammad SAW beserta para keluarganya, sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta kita semua selaku umatnya  yang senantiasa istiqomah menjalankan sunnah-sunnahnya. Aamiin

Sahabat yang berbahagia,

Dalam kehidupan yang sering kita temui sehari hari, terkadang kita jumpai beberapa orang yang mungkin memiliki sifat buruk, yakni sifat penyakit hati.  Sifat penyakit hati berporos pada Ubuddunya atau cinta akan dunia. Sifat penyakit hati tersebut  jangan-jangan justru terdapat pada diri kita sendiri.Karena secara tidak disadari mungkin kita telah lalai terhadap apa yang telah kita lakukan.

Sering kali ketika kita melakukan aktivitas, kuliah, bekerja, atau yang lainya, kita lupa akan tujuan utama kita yakni Lillahi ta’ala didasari karena Allah semata. Namun, betapa banyak kita temui di sekeliling kita, orang melakukan aktivitas bukan karena Allah Ta’ala melainkan karena sebatas cinta pada kesengan dunia.

Sebagai contoh nyata dalam negeri ini, kasus korupsi yang merajalela adalah contoh penyakit hati yang sekarang sedang gencar di kalangan elit pemerintah. Seorang koruptor tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah ia daparkan dari hasil korupsi. Kecintaan pada dunia telah membuatnya lupa akan apa yang telah ia lakukan. Menghalalkan segala cara, merugikan umat banyak, serta egois dengan kepentingan nafsunya sendiri. Selanjutnya ketika koruptor telah mendapat harta yang banyak, sebenarnya mereka  tidak akan bisa tenang kehidupanya. Yang terdapat dalam pikiranya adalah hanya, bagaimana cara mengamankan dan mempertahankan apa yang mereka peroleh. Menutup-nutupi perbuatanya agar mereka bisa terlihat amanah, dan sikap riya’ kepada orang lain akhir nya akan muncul.

Sungguh keadaan yang telah mereka capai dengan jalan haram tidak akan member ketengan hatinya. Justru perbuatan tersebut akan membuat penyakit hati yang semakin lama semakin menjerumuskannya dalam kesesatan. Betapa nistanya, mereka telah lupa akan Allah, demi kepentingan dunia yang sangat sedikit ini. Na’udubillah himindzalik.

Mungkin sedikit tips singkat yang akan saya sampaikan pada kesempatan kali ini agar kita semua terhindar dari penyakit hati tersebut kita menjadi seperti tukang parkir.

Seorang tukang parkir dapat member pelajaran berharga kepada kita dalam menjalani kehidupan ini. Bukan berarti kita harus menjadic seperti mereka dengan ikut menjadi petuga parkir di jalanan atau lainya hehe. Namun kita harus belajar dari apa yang ia lakukan. Mereka tidak pernah sombong ketika ia sedang menjaga parkir mobil contohnya. Karena Ia merasa tidak pernah memiliki mobil melinkan hanya sebatas titipan dari orang lain.

Begitu pula dengan kehidupan kita ini. Ketika kita mungkin memiliki mobil yang mewah dan dibawa ke kampus saat kuliah, kita tidak seharusnya sombong. Dengan mengamalkan rumus tukang parkir tersebut ketika ada seseorang yang berkata

“Wah mobil kamu kerenya, pasti mahal harganya”, maka kita tidak lantas sombong. Kita tanggapi dengan biasa saja

 “Ah enggak, mau mobil bagus, mobil jelek sama aja kog, toh itu semua sama-sama hanyalah titipan Allah padaku, semuanya adalah milik Allah”.

Insyaallah dengan sikap seperti itu mungkin bisa menjauhkan diri kita dari penyakit hati sombong, serta akan membuat hati kita menjadi tenang.

Atau mungkin ketika ada seseorang yang mengatakan,

“Kamu gak ngiri apa sama orang kaya itu, padahal rumah kamu biasa-biasa saja?” maka jawab kita mudah saja,

“Ah gak papa kog, mau rumah istana, rumah sederhana, itu semua adalah hanya sebatas titipan, toh ngapain kita ngiri kan Allah udah ngatur rezeqinya, ngiri gak ngiri gak akan member pengaruh pada orang lain, justru akan menambah keburukan pada diri kita sendiri”

Dengan kita selalu mendahulukan dan mengingat Allah dalam segala permasalahan, Insyaallah kita semua akan selalu terhindar dari penyakit hati. Maka dengan itu semoga Allah menganugerahkan kepada diri kita hati yang semakin bening, semakian meninggi dengan kebijaksanaan, semakin disegani dengan kerendahan hati. Pendek kata akan terbentuk asset berharga pada diri kita yakni akhlaq yang mulia seperti prinsip seorang tukang parkir diatas.

“Tetap bersahaja dalam menjalani hidup, tidak pernah merasa memiliki, karena semuanya hanya sebatas titipan dariNya”

Sahabatku yang berbahagia, mungkin sebatas ini yang dapat saya sampaikan pad kesempatan berbahagia kali ini. Semoga dapat member pencerahan kepada kita semua, semakin membuat kita bijaksana dalam menghadapi lautan kehidupan ini serta menjadi pribadi yang selalu ingat pada Allah SWT.

Sekian terimaksih. Assalamu’alaikum wr wb

Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger