Home » » Kisah Motivasi & Inspirasi / Pisau dan Pohon

Kisah Motivasi & Inspirasi / Pisau dan Pohon

Written By Arifin Budi Purnomo on Minggu, 10 Februari 2013 | 19.12.00

Assalamu’alaikum Wr Wb
Sahabatku yang senantiasa berkepribadian baik, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang seorang pemuda yang mempunyai sifat buruk kepada orang sekitar begitu juga dengan ayahnya.Namun sang pemuda tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia lakukan akan menimbulkan keburukan pada orang lain.
Untuk melanjutkan kisah pemuda tersebut, langsung saja kita ikuti jalan ceritanya….
Sebut saja pemuda itu bernama Fulan. Fulan adalah seorang pemuda bertemperamental buruk, seringkali ia membentak istrinya tiada henti. Setiap kali ada perkara yang menurutnya tidak benar meskipun hanya sebuah masalah kecil dia akan langsung menyalahkan sang istri dan memarahinya.

Suatu hari ayahnya mendapati keributan yang terjadi dalam rumah tangga anaknya itu. Beliau pun memanggil dan mengajak Fulan ke suatu tempat. Ternyata mereka tiba disebuah pohon besar di pinggir danau. Si ayah menyerahkan sebilah pisau dan menyuruhnya melemparkan pisau tersebut ke batang pohon di hadapan mereka.

"Untuk apa aku melakukan ini?" tanya Fulan.

"Lakukan saja!" perintah ayahnya lagi.

Dengan acuh tak acuh Fulan melaksanakan perintah itu. Dilemparkannya pisau ke arah pohon tersebut. Pisau itu hanya membentur batang pohon dan terjatuh ke tanah.

"Ayah, jika engkau mengharapkan aku mampu melempar pisau hingga menembus kulit pohon itu, engkau sama saja dengan bermimpi. Seandainya pun aku ahli dalam melempar pisau, tapi tidak bisakah kau lihat betapa tebalnya kulit pohon ini? Itu hal yang mustahil aku lakukan."

Sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Fulan itu, ayahnya kembali menyuruh dia mengulangi melempar pisau. Berulangkali Fulan mencoba melempar pisau tersebut, pada awalnya ia kembali gagal.. gagal dan gagal.. Tetapi sekali, dua kali ia akhirnya berhasil menancapkan pisau di batang pohon yang besar tersebut meskipun tidak begitu dalam.

Namun sang ayah masih belum puas, beliau masih meminta Fulan untuk melanjutkan aksinya. Sementara Fulan yang mulai kehilangan kesabaran akhirnya tidak tahan lagi.

"Hei, orang tua. Aku tidak peduli apabila dirimu adalah ayahku. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan keinginanmu, apa pentingnya pisau dan pohon ini hingga aku harus menghabiskan waktuku di tempat ini?", kata Fulan dengan nada marah.

"Dasar anak muda jaman sekarang, melakukan hal sekecil ini saja tak becus. Berhentilah menjadi sok jagoan jika melempar pisau saja kau tak mampu." tegur ayahnya dengan suara lantang sembari mencabut pisau yang masih tertancap.

Fulan benar-benar tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

"Berikan pisau itu, akan aku buktikan betapa hebatnya aku. Tak ada hal yang tak bisa aku lakukan!" sentaknya marah dan kemudian dengan penuh amarah di lemparkannya kembali pisau tersebut. Kali ini tidak diragukan lagi pisau itu menghujam batang pohon begitu dalam. "Kau lihat itu!" serunya menatap lelaki tua di hadapannya dengan tatapan menantang. "Aku bisa melakukannya!".

Orang tua itu hanya tersenyum, sembari berjalan mendekati pohon itu ia berujar pelan, "Kau benar, anakku, kau bisa melakukannya.", dengan mengeluarkan tenaga yang lumayan besar dicabutnya pisau dari pohon yang ternyata benar-benar tertancap kuat, "Dengan luapan emosi seperti itu apapun bisa kau hancurkan, anakku...", "Kemari dan lihatlah ini..." panggilnya.

Fulan yang mulai bisa mengatur emosinya kini hanya terdiam bingung sembari mendekati ayahnya.

"Apakah kau dapat melihat lubang yang ditinggalkan oleh pisau ini? Dapatkah kau melihat dalamnya kerusakan yang diakibatkan oleh lemparan pisau dikala engkau sedang marah? Apakah menurutmu pohon ini akan kembali seperti sedia kala?", "Kurang lebih seperti itulah bekas yang akan kau tinggalkan setiap kali engkau mengambil sebuah tindakan untuk melampiaskan amarahmu. Tidak akan menjadi masalah jika engkau melampiaskannya pada masalah-masalah yang mengakibatkan amarahmu muncul, bila untuk mencari jalan keluar dalam mengatasinya. Namun pernahkah kau berpikir luka seperti apa yang akan kau berikan apabila kau melampiaskan setiap amarahmu kepada seseorang? Seseorang yang mempunyai hati dan perasaan."
"'Maaf' mungkin bisa menyembuhkannya, tapi takkan pernah bisa menghapus bekas luka yang telah ditimbulkannya", kata sang ayah dengan penuh bijaksana.

Mulai saat itu, sang pemuda segera mungkin untuk berusaha merubah sikapnya yang pemarah. Ia menyadari bahwa kebiasaan buruk yang kerap ia lakukan adalah menyakiti dan merugikan orang lain. Ia bertekat untuk menjadi pribadi yang bijaksana lagi mampu bersikap dewasa dalam menghadapi segala hal.

Sahabatku yang budiman, setelah kita menyimak bersama cerita diatas sepertinya memang tidak terlepas dari kehidupan kita, Kita terkadang masih sering terbawa emosi dan sulit untuk mengendalikannya. Namun perlu kita sadari sobat, bahwa ternyata kebiasaan buruk diatas bisa saja merugikan orang lain dan diri sendiri. Orang lain akan merasa bahwa dirinya dilukai oleh sikap kita yang pemarah. Padahal kita juga ketahui bahwa orang yang pernah kita sakiti tidak mungkin mampu memaafkan perbuatan kita sepenuhnya. Dan hal itu akan berakibat buruk pada kita karena akan dimintai pertanggungjawaban esok kelak.

Sungguh sangat mengerikan jika kita dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak bukan?. Untuk itu mari kita bersama-sama memulai kebiasaan yang baik dengan lebih melatih berlapang dada. Menanggapi segala sesuatu dengan tenang serta berfikir lebih jernih. Ketika kita emosi, ujung-ujungnya pasti kita juga akan merasa menyesal. Lebih baik kita tanggapi dengan senyuman dan penuh kebijaksanaan :)

Mungkin sedikit yang dapat saya ulas pada kesempatan yang mulia kali ini. Semoga dilain waktu dapat berjumpa kembali dalam sebuah forum pelajaran belajar menjadi pribadi yang bijaksana. Aamiin.

Akhir kata Assalamu’alaikum wr wb. Sampai jumpa di post selanjutnya :)

Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger