Home » , , , » Kunjungan Abdillah Onim (Relawan MER-C Palestina) di MAFAZA (Part 1)

Kunjungan Abdillah Onim (Relawan MER-C Palestina) di MAFAZA (Part 1)

Written By Arifin Budi Purnomo on Senin, 25 Februari 2013 | 14.01.00

Reported by Arifin Budi Purnomo
Assalamu’alaikum Wr Wb

Sahabatku yang berbahagia, mungkin sebelumnya sobat sudah pernah mendengar seorang Indonesia yang menikah dengan wanita Palestina. Dan akhirnya pasangan tersebut dikaruniai seorang putri yang lahir dari keturunan Indonesia dan Palestina. Beliau adalah Abdillah Onim, pria asal Galela, Halmaher Utara, Maluku Utara. Pria yang menjadi duta representative Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Palestina tahun 2009 hingga sekarang ini, berazam menggadaikan nyawanya untuk membebaskan Palestina dan Masjid Al-Aqsha. Sang putri bernama Marwiyah Filindo, bayi cantik dan lucu yang nantik akan saya tunjukan foto-foto exlusive dari jepretan saya sendiri tentunya hehe :)


Siang itu ba’da sholat jum’at, masjid Fatimatuzzahra(MAFAZA) mendapat tamu yang cukup istimewa yakni kedatangan seorang mujahidin Palestina asal Indonesia. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Abdillah Onim. Kebetulan beliau sedang mudik ke Indonesia dan Alhamdulillah bersedia mampir ke MAFAZA Purwokerto.

Seusai sholat jum’at, beliau memberi sebuah tausyiah serta sharing pengalaman ketika ia berada di Gaza Palestina. Mengenai perjuangan beliau untuk bisa menjadi relawan di Gaza, hingga ia menemukan cintanya di negeri penjara terbesar di dunia itu.

Awal pertemuan siang itu, beliau membukan dengan potongan ayat suci Al Qur’an yang berbunyi


Artinya:

" Hai orang orang yang beriman , jika kamu menolong ( agama ) Allah , niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu " ( QS: Muhammad 7 )

Ayat yang sangat tidak asing bagi saya. Mengingat ayat tersebut adalah ayat yang berulang-ulang diajarkan oleh ibu saya ketika menghadapi suatu permasalahan. Bergetar hati ini tatkala seorang mujahidin asal Indonesia juga mempunyai prinsip yang sama. Subhanallah.

 “Saya pertama kali ditugaskan pada tahun 2009 dan di Jalur Gaza selama 4 bulan untuk mengurusi surat izin tanah wakaf yang rencanya akan dibangun Rumah Sakit Indonesia. Selama di jaur gaza, saya bertekad untuk tetap tinggal di jalur Gaza karena pengurusan surat itu sangat penting yang nantinya akan menjadi lokasi yang akan dibangun Rumah sakit Indonesia, dan Alhamdulillah kini sudah hampir selesai pembangunan Rumah Sakit tersebut” kata Abdillah Onim kepada para jamaah MAFAZA, yang saat ini sedang cuti dan berada di Indonesia, Jum’at (22/2/2013).

Diantara kiprahnya yang lain di dunia internasional memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha, adalah ketika ia mengikuti misi kemanusiaan kapal Mavi Marmara yang dibajak Zionis Israel di tengah jalan.

“Saya bersyukur karena sempat merasakan tragedi Mavi Marmara dan sempat dipenjara di Israel selama dua hari. Pengalaman yang sangat mengesankan adalah ketika di dalam kapal. Sempat beberapa kali terjadi kontak fisik, baku hantam, lempar kursi namun sepertinya Allah masih memberi keberuntungan bagi saya”, katanya.

“Sempat saya di introgasi bersama teman yang lain juga. Salah seorang Israel menemukan identitas saya adalah Galela, Halmaher Utara, Indonesia. Karena kebanyakan orang Israel tidak begitu pintar membaca huruf latin, mereka mengira bahwa saya berasal dari Galilea sebuah daerah bagian Distrik Utara Israel. Dengan postur ttubuh saya yang tinggi, mereka mengira bahwa saya adalah mata-mata Israel dan sepihak dengan mereka. Saya sudah menjelaskan bahwa saya dari Indonesia namun mereka tidak percaya. Akhirnya pun mereka tidak berani member ancaman fisik bagi saya”, ujarnya.

Usai misi Mavi Marmara yang berujung pembantaian sejumlah aktivis kemanusiaan oleh Zionis Israel, bukannya membuatnya ciut nyali, namun insiden itu makin menguatkan azzamnya untuk mengadaikan nyawa demi membela saudara-saudara muslimnya di Palestina.


Awalnya Abdillah Onim adalah pria lajang yang mulai berangkat ke Gaza pada tahun 2009. Ia memang memiliki keinginan menikahi wanita Gaza. Ia pun berusaha keras mencari pendamping hidup dibantu teman-temannya di Gaza.

“Waktu itu saya masih bujang, saya memang bertekad untuk mencari jodoh di Gaza. Dibantu dengan teman dan pejabat yang ada di sana saya dibantu untuk berta’aruf dengan muslimah di sana. Saya berta’aruf dengan muslimah 7 wanita muslimah di penjuru GAZA. Tiga diantaranya dibantu oleh Syaikh Adnan Rantisi yang beberapa waktu lalu pernah datang kesini, walaupun sepertinya belum berjodoh. Hingga akhirnya wanita ke tujuh lah yang menerima saya. Jadi kita mencari jodoh itu tanpa pacaran. Tidak seperti di Indonesia, mayoritas pemuda di negeri ini tidak menghiraukan syariat Islam terutama dalam hal mencari jodoh. Jadi Alhamdulillah saya sudah mempraktekkan mencari jodoh sesuai yang disyariatkan dalam agama Islam, yaitu ta’aruf tanpa pacaran, hanya berlangsung selama tujuh hari lalu melaksanakan ijab Kabul”, tuturnya pada para jamaah.


Seperti mimpi, dirinya yang berasal dari ujung timur Indonesia, akhirnya bisa menikahi muslimah di tanah jihad Gaza, Palestina. Nama muslimah itu adalah Rajaa, seorang hafizhah (penghafal Al-Qur’an) nan cantik jelita.



“Jodoh itu takdir dari Allah Ta’ala, saya dari daerah di ujung timur Indonesia dan mendapat jodoh seorang muslimah dari negara lain yang asli Palestina dan tinggal di Jalur Gaza. Saya juga pemuda pertama dari Indonesia yang melangsungkan pernikahan di Jalur Gaza. Saya merasa ini karunia yang luar biasa, karena Allah benar-benar memberikan imbalan bagi hambaNya, apalagi saya hanya seorang yang menjalankan misi kemanusiaan,” ungkap pria asal Galela ini.

Share this article :

1 komentar:

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger