Home » , , » LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH / Acara II. Derajat Kerut Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH / Acara II. Derajat Kerut Tanah

Written By Arifin Budi Purnomo on Kamis, 25 April 2013 | 18.50.00

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR ILMU TANAH
Acara II. Derajat Kerut Tanah








Oleh:
                                                     Nama               : Arifin Budi Purnomo 
                                                     NIM                : A1C012025 
                                                     Rombongan      : E1(Agribisnis) 
                                                     Asisten             : Kristia D A
                                                                              Reza Riski T
                                                                              Wefindria Afifah
                                                                              Nova Margareth


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2013









BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat penting peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah.
Tanah merupakan suatu sitem mekanik yang kompleks terdiri dari tiga fase yakni bahan-bahan padat, cair dan gas. Fase padat  yang hampir menempati 50% volume tanah sebagian besar terdiri dari bahan mineral dan sebagian lainnya bahan organik. Yang terkhir ini dijumpai dalam jumlah yang besar pada tanah organik (organosol). Sisa volume selebihnya merupakan ruang pori yang ditempati sebagian oleh fase cair dan gas yang perbandingannya selalu bervariasi menurut musim dan pengolahan tanah.
Tanah  mempunyai sifat yang mudah dipengaruhi oleh iklim, serta jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam jangka waktu tertentu.  Tanah dalam pertanian mempunyai peranan sebagai media tumbuh tanaman dalam hal tempat akar memenuhi cadangan makanan, cadangan nutrisi (hara) baik yang berupa ion-ion organik maupun anorganik.

Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan kemampuannya yang dibebankan kepadanya.Kemampuan untuk menjadi keras dan menyangga, kapasitas drainase dan kapasitas untuk menjadi keras dan menyangga, kapasitas untuk melakukan drainase dan menyimpan air,plastisitas,kemudahan untuk ditembus akar, aerasi dan kemampuan menahan vetensi unsure-unsur hara tanaman,semuanya erat hubungannya dengan kondisi fisik tanah. Hal ini tepat sekali, karena itu orang-orang penggarap tanah mengetahui arti dan sampai berapa jauh sifat-sifat tersebut diatas dapat diubah.

B.     Tujuan
Mengetahui besarnya derajat kerut tanah dari beberapa jenis tanah dan membandingkan besarnya derajat kerut antar jenis tanah yang diamati.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tanah  merupakan hasil evolusi dan mempunyai susunan teratur yang unik yang terdiri dari lapisan-lapisan yang berkembang secara genetik. Proses-proses pembentukan  tanah atau  perkembangan tanah dapat dilihat sebagai penambahan, pengurangan, perubahan atau translokasi (Rizki, 2012).
Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, organik,udara dan air. Bahan anorganik secara garis besar dibagi atas golongan fraksi tanah yaitu:
1.      Pasir  (0,05 mm – 2,00 mm) bersifat tidak plastis dantidak liat,daya menahan air rendah,ukurannya yang menyebabkan pori makro lebih banyak, perkolasi cepat,sehingga aerasi dan draianse tanh pasiran relatif lebih baik.
2.      Debu  (0,002mm – 0,05mm) sebenarnya merupakan pasir mikrodan sebagian besar adalah kuarsa. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi yang baik.
3.      Liat  (<0,002 mm) berbentuk mika atau lempeng, bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sofat mengembang dan mengerut yang besar. Bila kering menciut banyak menyerap energi panas, bila dibasahi terjadi pengembangan volume dan terjadi pelepasan yang disebut sebagai panas pembasahan (Hardjowigeno, 1987).

Beberapa tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi (Hardjowigeno,1987)
Derajat kerut tanah adalah kemapuan tanah untuk mengembang dan mengerut. Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering).Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986)
Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda diantara tanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifat kimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur, dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yang terdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu pH, kadar bahan organik dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK). Setiap tanah memiliki sifat mengembang dan mengkerut (Aji, 2012).
Tanah dapat terbagi menjadi beberapa jenis yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada jenis tanah yang mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengkerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka tanah menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefficient Of Linear Extensibility) atau PVC (Potential Volume Change = Swell index = index pengembangan). Istilah COLE banyak digunakan dalam bidang ilmu tanah (pedology) sedang PVC digunakan dalam bidang engineering (pembuatan jalan, gedung-gedung dsb) (Hardjowigeno, 1993)
Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986)
Untuk perhitungan derajat kerut adalah sebagai berikut :




BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.     Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah contoh tanah halus (<0,5 mm) dan air. Untuk alat yang digunakan adalah botol semprot, cawan porselen, colet, cawan dakhil, jangka sorong dan serbet/lap pembersih.
B.     Prosedur Kerja

a.       Tanah halus diambil secukupnya, dimasukkan kedalam cawan porselin, ditambah air dengan menggunakan botol semprot, lalu diaduk secara merata dengan colet sampai pasta tanah menjadi homogen.
b.      Pasta tanah yang sudah homogen tadi dimasukkan ke dalam cawan dakhil yang telah diketahui diameternya dengan menggunakan jangka sorong (diameter awal).
c.       Cawan dakhil yang telah berisi pasta tanah tersebut dijemur dibawah terik matahari, kemudian dilakukan pengukuran besarnya pengkerutn setiap 2 jam sekali sampai diameternya konstan (diameter akhir).


Perhitungan :      

    









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.     Hasil Pengamatan
No
Jenis Tanah

Pengamatan ke :
(dalam mm)
1
2
3
4
1
Entisol
○1
3,84
3,70
3,68
3.65
○2
3,70
3,68
3,62
3,60
x
7,54
7,38
7,30
7,26
2
Ultisol
○1
3,90
3,72
3,51
3,33
○2
3,82
3,54
3,34
3,12
x
7,72
7,26
6,85
6,46
3
Inceptisol
○1
3,84
3,74
3,62
3,40
○2
3,90
3,84
3,78
3,42
x
7,74
7,58
7,40
6,82
4
Andisol
○1
4,12
4,12
4,12
4,12
○2
4,12
4,12
4,12
4,12
x
8,24
8,24
8,24
8,24
5
Vertisol
○1
36,20
36,05
35,30
31,05
○2
36,30
36,07
35,35
30,40
x
72,50
72,12
70,65
61,45

No
Nama Tanah
Derajat Kerut (%)
1
Entisol
3,17%
2
Ultisol
16,46%
3
Inceptisol
12,39%
4
Andisol
0%
5
Vertisol
15,23%

Perhitungan Derajat Kerut Tanah:






Perhitungan Derajat Kerut Tanah Inseptisol
Derajat kerut tanah U1   =
    =
     =
            


B.     Pembahasan
Derajat kerut tanah adalah kemapuan tanah untuk mengembang dan mengerut. Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering).Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986).
Fraksi tanah ialah sekelompok zarah tanah yang berukuran diantara batas-batas tertentu. Dalam analisis besar zarah, bahan tanah dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi tiga fraksi utama. Masing-masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda-beda yaitu:
1.      Pasir (0,05 mm – 2,00 mm) bersifat tidak plastis dantidak liat,daya menahan air rendah,ukurannya yang menyebabkan pori makro lebih banyak, perkolasi cepat,sehingga aerasi dan draianse tanh pasiran relatif lebih baik.
2.      Debu (0,002mm – 0,05mm) sebenarnya merupakan pasir mikrodan sebagian besar adalah kuarsa. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi yang baik.
3.      Liat (<0,002 mm) berbentuk mika atau lempeng, bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sofat mengembang dan mengerut yang besar. Bila kering menciut banyak menyerap energi panas, bila dibasahi terjadi pengembangan volume dan terjadi pelepasan yang disebut sebagai panas pembasahan (Hardjowigeno, 1987).

Butiran pasir mempunyai matra kurang lebih seragam dan mempunyaibentuk membulat walaupun permukaan luarnya tidak selalu halus, sertamempunyai jenjang kekasaran tertentu yang terkait erat dengan keabrasifannya. Pisahan debu terdiri dari kumpulan zarah berukuran garis tengah antarapisahan lempung dan pisahan pasir. Secara meneralogis dan fisis, zarah debu inI mendekati zarah pasir, hanya berukuran lebih kecil dan luas permukaan persatuan massa yang lebih besar, serta seringkali terlapisi lempung yang terjerapkuat. Pada kasus tertentu zarah debu memperlihatkan perangai fisiko kimiawi lempung (Akhmad, 2012).
Pisahan lempung dibedakan secara mineralogis dari pisahan debu oleh karena lebih dirajai oleh pelikan-pelikan hasil pelapukan dan tidak dijumpai pada batuan yang tidak lapuk. Pisahan lempung lebih tanah pelapukan lanjut daripada pelikan dalam batuan dan lebih menunjukkan watak fisis dan kimiawi pisahan lempung. Pisahan lempung dengan ukuran zarah < 2 mikron, merupakan pisahan koloid. Pelikan ini jarang dijumpai dalam bentuk zarah berukuran > 2 mikron, dan umumnya dijumpai dengan ukuran < 2 mikron. Pisahan lempung kasar, terutama berukuran > 0.5 mikron, dapat mengandung sejumlah kuarsa, dan kadang mika, sedangkan pisahan lempung ukuran < 0.1 mikron, hampir seluruhnya terdiri dari pelican lempung atau hasil pelapukan lain (Poerwowidodo, 1991).

Berbagai macam ukuran, tekstur dan srtuktur yang telah disebutkan diatas, sangat mempengaruhi derajat kembang atau mengkerutnya tanah. Dipandang dari segi fisika, tanah mineral merupakan campuran yang terbentuk dari butir-butir anorganik, rapuhan bahan organik, udara dan air. Pecahan mineral yang lebih besar biasanya terdapat di dalamnya dan dilapisi seluruhnya oleh koloida, dan bahan lain yang sudah menjadi halus. Kadang-kadang butir-butir mineral yang lebih besar menguasai dan menjadikan tanah berkerikil atau berpasir. Dapat juga terjadi sebagian terbesar koloida anorganik; dalam hal ini tanah akan berciri lempung (Soegiman, 1982).
Sifat menggembung dan mengkerutnya tanah disebabkan oleh besarnya prosentase (%) kandungan mineral monmorilonit yang tinggi secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan organik, anorganik, udara dan air. Bahan anorganik secara garis besar terdiri dari golongan fraksi tanah yaitu pasir, debu dan liat.
Percobaan derajat kerut tanah pada acara 3 ini adalah tanah inseptisol, pengamatan dilakukan pada 2 wadah yaitu cawan I dan cawan II yang berisi tanah inseptisol yang sebelumnya telah diolesi vaseline agar saat penjemuran tanah yang mengkerut tidak menempel pada cawan. Dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari, dan diamati setiap 2 jam sekali. Selanjutnya dilakukan pengukuran sebanyak 4 kali.
Praktikum penetapan derajat kerut tanah ini tanah yang diamati adalah entisol, ultisol, andisol, inseptisol dan vertisol. Pada pengamatan yang pertama tanah inseptisol menunjukkan adanya perubahan volume tanah (berkerut), kemudian pengamatan berikutnya juga menunjukkan perubahan. Kemudian diperoleh derajat kerut tanah pada tanah inseptisol ulangan ke-1 yakni 11,45% dan pada inseptisol ulangan  ke-2 yakni 13,33% sehingga derajat kerut rata-ratanya yaitu 12,39%.
Pengamatan pada tanah andisol tidak terjadi perubahan derajat kerut tanah atau bisa di katakan nol. Hal ini terjadi karena mungkin pada saat praktikum cawan tidak di olesi pelumas terlebih dahulu sehingga tanah menjadi lebih lengket pada cawan 1 ulangan 1 maupun cawan 2 pada ulangan 2.
Pada pengamatan yang pertama tanah entisol menunjukkan adanya perubahan volume tanah (berkerut), kemudian pengamatan berikutnya juga menunjukkan perubahan. Kemudian diperoleh derajat kerut tanah pada tanah entisol ulangan ke-1 yakni 5% dan pada entisol ulangan  ke-2 yakni 2,34% sehingga derajat kerut rata-ratanya yaitu 3,175%
Pengamatan pertama tanah ultisol menunjukan adanya perubahan volume tanah (berkerut), kemudian pengamatan berikutnya juga menunjukkan perubahan. Kemudian diperoleh derajat kerut rata-ratanya yaitu 16,46%.
Pengamatan pertama tanah vertisol menunjukan adanya perubahan volume tanah (berkerut), kemudian pengamatan berikutnya juga menunjukkan perubahan. Kemudian diperoleh derajat kerut tanah pada tanah entisol ulangan ke-1 yakni 14,22% dan pada entisol ulangan  ke-2 yakni 16,25% sehingga derajat kerut rata-ratanya yaitu 15,23%.
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat kita lihat bahwa masing-masing jenis tanah mempunyai derajat kerut yang berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu berat ringannya tanah akan menentukan derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan orgaik tana berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil.
Entisol merupakan tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, atau histik bila tanah sangat lembek (ENT – Recent = baru). Tanah ini dulu disebit tanah Aluvial atau Regosol (Hardjowigeno, 1993).
Ultisol adalah tanah dimana terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Tanah ini dulu disebut tanah Podzolik Merah Kuning yang banyak terdapat di Indonesia. Kadang-kadang juga termasuk tanah Latosol dan Hidromorf Kelabu (Hardjowigeno, 1987).
Inseptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Enttison (inceptum permulaan). Umumnya mempnyai horison kambik. Karena tanah belum berkembang lanjut kebanyakan tanah ini cukup subur. Tanah ini dulu termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus dan lain-lain (Hardjowigeno, 1987)
Andisol adalah tanah epipedon mollik atau umbrik atau ochrik dan horison kambik, serta mempunyai bulk density (kerapatan limbak) kurang dari 0,85 g/cc dan didominasi bahan amorf, atau lebih dari 60% terdiri dari bahan volkanik vitrik, cinder atau pyroklastik vitrik yang lain (Hardjowigeno, 1987).
Vertisol merupakan tanah dengan kandungan air tnggi (lebih dari 30%) diseluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengerut. Kalau kering tanah mengerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras, kalau basah mengembang dan lengket (Hardjowigeno, 1987).














BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan dan percobaan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :
1.      Tanah mineral merupakan tanah yang disusun oleh campuran antara bahan organik, bahan anorganik, air dan udara. Bahan anorganik terbagi menjadi 3 golongan yakni meliputi pasir (0,05mm–2mm), debu (0,002–0,05mm) dan liat (<0,002mm).
2.      Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat makan derajat kerut semakin besar, sedangkan bahan organik sebaliknya semakin tinggi kandungan bahan organik maka derajat kerut akan semakin kecil.
3.      Kemampuan mengembang dan mengerut tertinggi adalah tanah ultisol yakni sebesar 16,46%. Sedangkan yang terendah adalah tanah andisol sebesar 0%
4.      Tanah yang mempunyai kemampuan mengembang dan mengerut paling tinggi berarti tanah tersebut mengandung liat.











DAFTAR PUSTAKA

Aji, Soeharto. 2012. Analisis Derajat Kerut Tanah. http://ajiver.blogspot.com/2012/12/laporanpraktikum-dasar-dasar-ilmutanah.html diakses tanggal 11 April 2013
Akhmad. 2012. Dasar Ilmu Tanah. http://www.scribd.com/doc/87961158/Laporan-Dastan-Derajat-kerut-tanah.html diakses tanggal 11 April 2013
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah Cetakan 1. Mediyatama Sarana Perkasa: Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Redogenesis. Akedemika Presindo : Jakarta.
Poerwowidodo, 1991. Genesa Tanah, Proses Genesa dan Morfologi.  Fahutan: Institut Pertanian Bogor.
Rizki, Akbar.  2012,. Derajat Kerut Tanah. http://duniabarstev.blogspot.com/2012/05/acara-iii-derajat-kerut-tanah.html, diakses tanggal 11 April 2013
Sarief, Saifuddin.1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana : Bandung.
Soegiman. 1982 . Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara: Jakarta.


Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger