Home » , , » Cerpen “Sang Relawan” (Kontributor Buku Antologi Cerpen Event " Negeriku Berduka Negeriku Menangis" PENA INDIS 2014)

Cerpen “Sang Relawan” (Kontributor Buku Antologi Cerpen Event " Negeriku Berduka Negeriku Menangis" PENA INDIS 2014)

Written By Arifin Budi Purnomo on Kamis, 27 Februari 2014 | 13.52.00

“Sang Relawan”
Sore ini, aku telah mengisi penuh tas ranselku dengan pakaian beserta peralatan lengkap lainya. Layaknya orang mau pindahan saja pokoknya. Rencananya sore ini aku hendak berangkat ke kota hujan alias Bogor untuk mengambil jatah liburanku dari pesantren. Awalnya surat dari pesantren tertera keterangan magang di sebuah farm swasta. Namun biar berasa asyik dan menyenangkan, aku menganggap ini sebagai liburan saja.
Tas dan peralatan lain yang tidak aku bawa, segera aku packing dan secepatnya aku ungsikan ke gudang masjid. Nenteng-nenteng kardus untuk disimpan di gudang masjid lantai dua memang melelahkan. Walaupun beratnya minta ampun, karena niatnya semangat liburan, semua menjadi enteng-enteng saja pokoknya.
Terlihat mbak Shinta sedang duduk di ruang tamu kantor takmir. Dengan wajah ceria dia menyapaku,
“Heh, pin kamu mau mudik tuh? hehe” tanyanya agak sentil sedikit menahan tawa seolah melihatku sebagai anak mama yang sering mudik ke kampung halaman.
“Uh, enggak dong mbak, aku kan mau ke Bogor, magang kerja nih mbak hehe” jawabku sambil cepet-cepet naik tangga biar gak ada pertanyaan lagi.
“Ok, selamat jalan dan selamat liburan fin!” tambah mbak Shinta yang mungkin merasa kalau aku memang sedang buru-buru.
Mbak Shinta adalah mahasiswi Jurusan Sastra Inggris angkatan lama entah tahun berapa. Namun yang pasti ia begitu aktif di berbagai organisasi dengan berjuta program-program kerjanya. Mungkin saja itu yang menyebabkannya belum juga lulus kuliah.
****
Setelah melewati perjalanan yang hampir saja memakan waktu 12 jam perjalanan darat, aku dan dua orang temanku sampai di Bogor dengan keadaan selamat. Kami bertiga yang rela duduk dikursi bus paling belakang, pengap dan agak bau ini nampaknya harus banyak bersyukur. Tak di sangka perjalanan malam itu ternyata banyak sekali rintangan yang harus dilewati bus kami. Jalan yang biasa bus lewati tiba-tiba terkena bencana banjir yang menimpa di berbagai daerah di Jawa Barat.
Kejadian ini mengingatkanku pada perjuangan teman-teman di Pesantren yang tahun kemarin menjadi relawan tanggap bencana. Semangat seorang generasi muda mahasiswa dan juga seorang santri, membawa panji-panji mulia, menolong sesama, yakni korban bencana. Seolah aku menjadi orang terbodoh karena tahun ini aku hanya menyaksikan kejadian-kejadian sebagai tanda kekuasaan Allah ini tanpa mampu memberi bantuan langsung kepada mereka, saudara-saudara yang terkena musibah banjir.
          Hari itu pihak Pesantren kami bekerja sama dengan salah satu lembaga amal dan sosial untuk turut terjun membantu saudara korban banji di Subang, Jawa Barat. Lima orang telah berangkat demi menyalurkan bantuan seperti pakaian layak pakai, obat-obatan, uang tunai, dan peralatan yang lainya. Rombongan berangkat dari Purwokerto sekitar pukul 20:00 WIB dengan satu mobil chery warna biru tua. Dengan penuh rasa semangat persaudaraan, tim kami melaju menuju ke Subang demi mengemban tugas mulia.
          Semangat dan ketulusan para relawan banjir dari Purwokerto tergampar pada sosok mbak Shinta. Dalam akun twitter miliknya mbak Shinta nampak tak mau ketinggalan dengan relawan jejaring sosial lainya. Dengan postingannya yang berbunyi “Menuju Subang bersama Tim #tanggapBencana Mafaza sinergi dengan @ALAZHARPEDULI. Bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi laghufururRahiim,” semakin membuatku iri saja padanya. Terpikir dalam benakku rasa iri dalam kebaikan karena sosok mbak Shinta yang malam itu adalah satu-satunya relawan akhwat yang terjun bersama tim kami.
          Malam yang begitu indah, di hari jumat yang istimewa, bersama muda-mudi pesantren yang berangkat mengemban tugas mulia. Tak ada sedikitpun rasa keraguan dalam menjalankan amanat penuh tanggung jawab. Satu tekad dengan satu tujuan yang sama, insyaallah hanya mengharap ridho Allah semata.
          Namun segalanya nampak telah menjadi kehendak Allah. Relawan banjir dari Pesantren kami mengalami kecelakaan darat di daerah Brebes pada pukul 23:00 WIB dini hari dengan kondisi mobil rusak dan tergelincir masuk ke dalam sungai yang cukup dalam. Tiga santri berhasil menyelamatkan diri dengan luka ringan disertai sedikit rasa trauma. Namun satu orang santri mengalami luka yang cukup berat karena paru-parunya terlalu banyak terisi sair. Satu lagi yang sangat mengejutkan adalah satu-satunya akhwat yang berangkat sebagai relawan saat itu, tak dapat menyelamatkan diri ketika modil masuk ke sungai, dia adalah mbak Shinta.
Seolah tak percaya mbak Shinta benar-benar mengalami kecelakaan waktu itu dan nyawanya tak lagi bisa terselamatkan. Sontak beberapa jejaring sosial dengan begitu cepat memberitakan akan kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa aktivis muda itu. Dan aku sendiri merasa berada pada satu dorongan paksaan untuk mempercayai berita kecelakaan yang menimpa salah seorang sahabat dan sosok inspiratifku, mbak Shinta.
          Bagiku mbak Shinta adalah seorang guru yang hebat. Beliau adalah aktivis berbagai organisasi di kampus maupun di luar kampus, sebut saja KAMMI, HMI, BEM, dan masih banyak lainya. Seorang mahasiswi berprestasi yang lolos student exchange universitas di Singapura. Bukan hanya itu, satu yang sangat mengesankan bagiku adalah ketika ia membimbingku belajar teknik kepenyiaran di dunia broadcast saat sama-sama masih berjuang menghidupkan radio islam salah satu komunitas di Purwokerto. Subhanallah.
          Kini mbak Shinta benar telah tiada. Semua merasa kehilangan akan kepergianya. Adik-adik yatim piatu nampaknya telah kehilangan mentor belajar paling inspiratif dan bersemangat. LAZIZ MAFAZA kini kehilangan seorang manajer programnya. Para aktivis penggiat kegiatan sosial sangat berduka akan kepergian sosok kontributif yang telah lama berjuang bersamanya.
         Di hari jumat yang indah, mbak Shinta telah berpulang ke rahmatNya. Gugur sebagai pejuang yang bersemangat membantu korban bencana. Dinginnya malam di hari yang mulia telah menemaninya berpulang dengan jalan yang istimewa. Aku yakin mbak Shinta kini masih ada. Ia sedang tersenyum pada semua. Dan Allah selalu bersamanya. Selamat jalan sobat!. Selamat jalan “Sang Relawan.”

*Sekian*
Share this article :

7 komentar:

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger