Home » , » Materi Kuliah Dasar Akuntansi BAB 2 LAPORAN KEUANGAN

Materi Kuliah Dasar Akuntansi BAB 2 LAPORAN KEUANGAN

Written By Arifin Budi Purnomo on Selasa, 11 Februari 2014 | 14.44.00

BAB 2
LAPORAN KEUANGAN


BAB ini menjelaskan laporan keuangan. Laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses akuntansi. Sebagai hasil akhir dari proses akuntansi, laporan keuanganmenyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan berbagai pihak (misalnya pemilik dan kreditor).
Laporan keuangan yang utama terdiri atas: neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan modal. Sebelum mempelajari masing-masing laporan keuangan tersebut, kita akan mempelajari lebih dahulu tujuan laporan keuangan.

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
Tujuan laporan keuangan, menurut "Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan" (IAI, 2002), adalah sebagai berikut:
Laporan keuangan menyajikan informasi tentang posisi keuangan (aktiva, utang, dan modal pemilik) pada suatu saat tertentu.
Laporan keuangan menyajikan informasi kinerja (prestasi) perusahaan.
Laporan keuangan menyajikan informasi tentang perubahan posisi  keuangan perusahaan.
Laporan keuangan mengungkapkan informasi keuangan yang penting dan relevan dengan kebutuhan para pengguna laporan keuangan.
Marilah sekarang kita beralih pada pembahasan masing-masing jenis laporan keuangan utama, yakni neraca, laporan rugi-laba, laporan perubahan modal.
NERACA
Neraca adalah laporan keuangan yang secara sistematis menyajikan posisi keuangan perusahaan pada suatu saat (tanggal) tertentu. Neraca disebut juga laporan posisi keuangan. Laporan ini dibuat untuk menyajikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan.
1. KLASIFIKASI INFORMASI DI NERACA
Di neraca, informasi diklasifikasi berdasarkan pos-pos yang sejenis. Pos-pos yang sejenis dikelompokkan dan dijumlahkan sehingga mempunyai makna tertentu untuk kepentingan analisis.
Tiga kelompok umum yang tersaji di neraca adalah aktiva, utang, dan modal pemilik.
Aktiva adalah sumber-sumber ekonomik (economic resources) yang dikuasai oleh perusahaan dan masih memberikan kemanfaatan di masa yang akan datang.
Utang merupakan pengorbanan ekonomik (economic sacrifices) untuk menyerahkan aktiva atau jasa kepada entitas lain di masa yang akan datang.
Modal pemilik adalah hak residu atas aktiva setelah dikurangi dengan utang.

Tabel 2.1. berikut ini menyajikan format umum neraca:
NERACA
Aktiva

Aktiva Lancar
Investasi Jangka Panjang
Aktiva Tetap Bewujud
Aktiva Tetap Tidak Berwujud
Aktiva Lain - lain

Utang dan Modal Pemilik

Utang Lancar
Utang Jangka Panjang
Modal Pemilik

AKTIVA LANCAR
Aktiva lancar meliputi kas dan sumber-sumber ekonomi lainnya yang dapat dicairkan menjadi kas, dijual, atau dipakai habis dalam rentang waktu satu tahun sejak tanggal neraca atau satu siklus kegiatan normal perusahaan. Termasuk dalam aktiva lancar, antara lain, adalah piutang usaha, surat-surat berharga, dan gaji yang dibayar di muka.
Siklus kegiatan atau siklus operasi (operating cycle) perusahaan adalah waktu rata-rata yang diperlukan dalam rangka menciptakan penda­patan, sejak perusahaan mengeluarkan kas sampai ia menerima kembali kas tersebut. Bagi perusahaan dagang yang membeli dan menjual barang secara tunai, siklus operasinya seperti gambar 2.1.
 








Gambar 2.1. Siklus Operasi Perusahaan Dagang dengan Pembelian dan Penjualan Tunai

Gambar 2.1. menunjukkan siklus operasi bagi perusahaan dagang yang pembelian dan penjualannya dilakukan secara tunai.
Aktiva lancar dilaporkan di neraca dengan mengurutkan likuidi­tasnya, yaitu cepatnya aktiva lancar untuk menjadi kas,  dikonsumsi, atau dijual. Sebagai contoh cara penyajian aktiva lancar di neraca, sebagai berikut:


AKTIVA LANCAR
Kas ……………………………………………Rp. 1.000
Surat – surat berharga ………………………...          300
Piutang Wesel ………………………………...          500
Piutang Usaha ……………………….. Rp. 720
Dikurangi : Cad. Piutang tak tertagih          20
Nilai Realisasi Pitang Bersih ………………           700
Piutang Bunga ……………………………….           100
Bahan Habis Pakai …………………………..            100
Persekot Premi Asuransi …………………….              50
Total Aktiva Lancar ………………………   Rp. 2.700
 
 












Dalam kelompok aktiva lancar di atas terdapat informasi cadangan piutang tak tertagih, yang dilaporkan sebagai pengurang piutang usaha.
INVESTASI JANGKA PANJANG
Investasi jangka panjang merupakan penyertaan di perusahaan lain dalam jangka panjang baik untak memperoleh pendapatan tetap (berupa bunga), dan pendapatan tidak tetap (berupa dividen) maupun untuk menguasai perusahaan lain. Penyertaan jangka panjang biasanya dilakukan dalam saham atau obligasi.

Investasi Jangka Panjang
Investasi Pada Saham Biasa PT. Halilintar …………Rp.250
Investasi Pada Obligasi PT. Kilat …………………..      200

Total Investasi Jangka Panjang ………………………Rp.450
 
Berikut ini contoh penyajian investasi jangka panjang di neraca.

AKTIVA TETAP BERWUJUD
Aktiva tetap berwujud adalah sumber-sumber ekonomi yang memi­liki wujud fisik. Aktiva tersebut dimaksudkan untuk digunakan secara aktif dalam kegiatan normal perusahaan dan tidak untuk dijual dalam rangka memperoleh pendapatan. Termasuk dalam aktiva tetap berwujud, antara lain, .adalah tanah, gedung, dan peralatan. Kecuali tanah, aktiva tetap berwujud disusut setiap tahunnya. Aktiva tetap berwujud dilaporkan di neraca dengan mengurutkan sesuai kekekalannya. Tanah dilaporkan sebesar harga perolehannya sedangkan selain tanah sebesar nilai bukunya.

Aktiva Tetap Berwujud
                       
                        Harga Perolehan   Penyusutan Akumulasi    Nilai Buku

Tanah                   Rp.2.000                                                     Rp.2.000
Gedung                      4.000                         800                            3.200
Peralatan                     2.400                     1.800                               600
                              Rp.8.400                Rp.2.600                      Rp.5.800
 

AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD
Aktiva tetap tidak berwujud mencerminkan hak-hak istimewa atau kondisi dan posisi yang menguntungkan perusahaan dalam mencapai pendapatan. Aktiva tersebut dapat diperoleh dengan membeli dari pihak luar atau dengan mengembangkannya sendiri, misalnya hak paten. Sebagaimana aktiva tetap berwujud, aktiva tetap tidak berwujudjuga disusut, tetapi istilahnya adalah amortisasi, bukan penyusutan. Aktiva tetap tidak berwujud dilaporkan di neraca sebesar nilai bukunya, yaitu harga perolehan dikurangi amortisasi kumulatifnya.
AKTIVA LAIN-LAIN
Aktiva lain-lain adalah aktiva-aktiva yang tidak dapat dike­lompokkan ke dalam aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap berwujud, dan aktiva tetap tidak berwujud. Misalnya gedung yang masih dalam proses pembangunan dan kendaraan yang belum digunakan
UTANG LANCAR
Utang lancar adalah utang yang akan dilunasi dalam rentang waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Utang lancar akan dilunasi dengan aktiva lancar atau dengan menimbulkan utang lancar lainnya. Utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dan akan dilunasi dengan aktiva lancar atau menimbulkan utang lancar, diklasifikasi sebagai utang lancar. Termasuk dalam utang lancar, antara lain, adalah utang usaha, utang wesel, dan gaji yang masih harus dibayar. Utang lancar dilaporkan di neraca dengan mengurutkan mana yang paling cepat akan dilunasi. Dalam praktiknya, jatuh tempo utang dalam satu jenis utang tertentu itu bermacam-macam sehingga sulit untuk menentukan utang mana yang harus didahulukan melaporkannya. Praktik yang lazimnya digunakan adalah melaporkan utang wesel lebih dahulu berapa pun jumlah rupiahnya dan kemudian utang usaha.

Utang Lancar
Utang Wesel ………………………………………      Rp.   75
Utang Usaha ………………………………………             100
Utang Obligasi jatuh tempo dalam setahun ……….             150
Utang Gaji dan Upah ……………………………..              105
Sewa diterima di muka ……………………………               70
Total Utang Lancar …………………………..        Rp. 500
 

UTANG JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang disebut juga utang tidak lancar. Ini adalah utang yang pelunasannya atau jatuh temponya lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Utang jangka panjang tidak akan dilunasi dengan menggunakan aktiva lancar. Termasuk dalam utang jangka panjang, antara lain, adalah utang hipotik dan utang obligasi.

Utang Jangka Panjang

Utang Obligasi ……………………….Rp. 1.000
Utang Hipotik ………………………..          500
Total Utang Jangka Panjang …………………….Rp. 1.500
 

MODAL PEMILIK
Modal pemilik adalah sisa hak pemilik atas aktiva neto perusahaan. Aktiva netto adalah total aktiva dikurangi total utang. Nama-nama spesifik modal pemilik bergantung pada jenis perusahaan ditinjau dari kepemilikannya.

PERUSAHAAN PERSEKUTUAN
Modal Pemilik
Modal Tuan Subur …………………………………Rp.  6.000
Modal Nona Isnaeni ……………………………….        4.000
Total Modal Pemilik ………………………….. Rp.10.000
 
Berikut adalah contoh penyajian modal pemilik di neraca untuk masing-masing jenis perusahaan.


PERUSAHAAN PERSEROAN
Modal Pemegang Saham
Modal Saham Biasa (100 lembar, nominal @Rp.70) …..Rp. 7.000
Agio Modal Saham Biasa ………………………………          500
Laba Ditahan …………………………………………...        2.500
Total Modal Pemegang Saham ……………………  Rp.10.000
 
 







B.   2.  BENTUK NERACA
Neraca dapat disusun dalam format staffel (report form)
Setiap neraca harus mencantumkan informasi berikut: NAMA PERUSAHAAN, NERACA sebagai judul laporan, TANGGAL NERACA dan ISI NERACA (AKTIVA, UTANG dan MODAL PEMII.IK).
NERACA BENTUK STAFEL

PERUSAHAAN BEJO UNTUNG

NERACA
PER 31 DESEMBER 2003

AKTIVA

Aktiva lancar

                Kas                                                                                                         Rp.17.000
                Surat berharga                                                                                     Rp.  9.000
                Piutang usaha                                      Rp.18.000
                (-) cadangan kerugian piutang          Rp.     180
                    
Piutang usaha bersih                                                                     Rp.17.820
                Piutang bunga                                                                                      Rp.     200
                Bahan habis pakai                                                                              Rp.     350
                Persekot premi asuransi                                             Rp.   500                                
                Jumlah aktiva lancar                                                                          Rp.44.870
                                                                                                                    
Aktiva Tetap:
Tanah                                                                                                    Rp.21.000
Gedung                                                  Rp.15.000
(-) akumulasi penyusutan gedung    Rp.     750
                                                                                                  
     Nilai buku gedung                                                                          Rp.14.250

Perangkat kantor                                 Rp.10.000
(-) akm penyusutan perangkat         Rp.     500
     Nilai buku perangkat kantor                                                        Rp.  9.500

Jumlah aktiva tetap                                                                            Rp.44.750
JUMLAH AKTIVA                                                                              Rp.89.620

 

PASIVA

Utang Lancar:
Utang usaha                                                                                         Rp.  8.000
Utang bank                                                                                           Rp.12.000
Utang biaya iklan                                                                                                Rp.  1.500
Sewa diterima di muka                                                              Rp1.000

Jumlah utang lancar                                                    Rp.22.500
Modal Pemilik:                                                                                                    Rp.67.120                                                                                                 
JUMLAH PASIVA                                                                              Rp.89.620


 
 





         









3. MANFAAT NERACA
Manfaat neraca adalah pada aspek likuiditas dan fleksibilitas keuangan perusahaan. Likuiditas dan fleksibilitas keuangan merupakan kondisi tertentu yang harus dipelihara pada kapasitas yang mungkin untuk menghasilkan laba.
Likuiditas adalah suatu alat ukur untuk menilai kemampuan perusa­haan untuk menunaikan utang-utangnya tepat pada waktu yang telah disepa­kati. Para pemasok dana jangka pendek sangat berkepentingan dengan likuiditas perusahaan. Sedangkan para pemasok dana jangka panjang lebih memantau fleksibilitas keuangan perusahaan. Fleksibilitas keuangan adalah suatu alat ukur untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mendapatkan sumber dana.

            LAPORAN RUGI-LABA
Laporan rugi-laba adalah laporan keuangan yang secara sistematis menyajikan hasil usaha perusahaan dalam rentang waktu tertentu. Laporan rugi-laba disusun untuk memenuhi tujuan laporan pada butir (b) sebagai­mana telah disebutkan sebelumnya. Dengan demikian laporan rugi-laba menyajikan pendapatan selama satu perioda dan biaya-biaya untuk memperoleh pendapatan tersebut pada perioda yang sama. Di laporan rugi laba, dilaporkan juga untung (gain) dan rugi (loss). Definisi mengenai pendapatan, untung, biaya dan rugi akan diberikan nanti.
Pendapatan (revenue) adalah kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban atau kombinasi keduanya sebagai akibat penyerahan produk perusahaan kepada para pelanggan. Sebuah salon kecantikan, misalnya, menerima uang tunai (kas) dari pelanggan yang meminta untuk dipangkas rambutnya. Kenaikan kas yang diperoleh dari penyerahan jasa kepada pelanggan ini disebut sebagai pendapatan. Sebagai contoh lain, salon kecantikan di atas telah menerima uang muka dari pelanggan yang baru akan minta dirias ketika akan diwisuda sepekan lagi. Dalam contoh ini, salon tersebut sudah menerima uang tetapi belum menyerahkan jasanya. Jadi, ia mempunyai kewajiban untuk menyerahkan jasa rias sepekan lagi. Jika sepekan kemudian, salon tersebut jadi merias pelanggan itu, maka turun atau berkurang kewajibannya. Turunnya kewajiban sebagai akibat penyerahan jasa kepada pelanggan ini juga merupakan pendapatan.
Adapun biaya (expense) merupakan kebalikan dari pendapatan. Yakni, biaya merupakan penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban atau kombinasi keduanya sebagai akibat penyerahan produk perusahaan kepada para pelanggan. Dalam contoh salon kecantikan di atas, salon tersebut harus membayar kapster untuk memotong rambut dan merias pelanggan. Turunnya kas untuk membayar kapster tersebut merupakan biaya. Bisa juga terjadi bahwa salon tersebut membayar upah kapster sepekan sekali sehingga salon tidak membayar upah sesaat setelah kapster bekerja. Ini berarti, salon sudah menerima jasa kapster, tetapi belum membayar. Jadi, kewajibannya bertambah. Bertambahnya kewajiban sebagai akibat penyerahan jasa kepada pelanggan ini juga disebut sebagai biaya.
Untung adalah kenaikan aktiva netto yang berasal dari peristiwa insidental dan bukan dari penyerahan jasa kepada pelanggan. Misalnya, perusahaan menjual mesin produksinya yang sudah tua. Jika harga jual mesin bekas itu lebih tinggi daripada nilai bukunya, maka pelepasan mesin tersebut mendatangkan untung sebesar selisih lebih harga jual di atas nilai buku. Sebaliknya, jika harga jualnya lebih rendahdaripada nilai bukunya maka selisihnya diakui sebagai rugi.
Agar tujuan menyajikan laba-rugi periodik dapat terpenuhi, maka penyusunan laporan rugi-laba harus:
Memuat segenap pendapatan (revenue), untung (gain), biaya (expense),dan rugi (loss) pada perioda yang bersangkutan.
Laporan rugi-laba seyogyanya disusun dalam posisi vertikal, yaitu urut ke bawah dengan pendapatan menempati posisi paling atas, kemudian barulah biaya-biaya (bentuk laporan demikian disebut bentuk staffel).
Pendapatan dan biaya usaha dipisahkan dari pendapatan dan biaya di luar usaha.
Setiap laporan rugi-laba harus mencantumkan informasi berikut:
Nama perusahaan (dicantumkan paling atas pada kepala laporan rugi-laba). Dalam contoh, nama perusahaannya adalah Perusahaan Transportasi Wisanggeni.
Laporan Rugi-Laba sebagai judul laporan.
Periode Laporan (periode tertentu, dalam contoh adalah "Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2003 ").
Elemen-elemen rugi-laba (pendapatan, untung, biaya, dan rugi).
Laporan rugi-laba untuk perusahaan persekutuan dan perseroan tidak berbeda dari laporan rugi laba untuk perusahaan perseorangan. Hanya saja, karena laba perusahaan persekutuan dan perseroan menjadi objek pajak penghasilan badan maka setelah laba ada satu pos 'pajak penghasilan.` Seandainya laporan rugi-laba di atas adalah untuk pemisahaan perseroan atau persekutuan maka laba bersihnya diganti denganjudul'laba sebelum pajak penghasilan.' Di bawah judul ini ada satu pos pajak penghasilan yang jumlahnya menjadi pengurang laba sebelum pajak penghasilan. Baris terbawah adalah laba bersih (net income) yang sering disebut bottom line net income.
1. BENTUK LAPORAN RUGI-LABA
Dipandang dari segi cara penyajiannya, terdapat dua macam bentuk laporan rugi-laba. Dua macam bentuk tersebut adalah laporan rugi-laba bertahap dan laporan rugi laba satu tahap.
Laporan Rugi-Laba Bertahap (Multiple Step)
Laporan rugi-laba bertahap adalah laporan rugi-laba yang penyajiannya mengikuti tahap-tahap:
Penentuan laba-rugi dari aktivitas usaha.
Penentuan laba-rugi dari aktivitas di luar usaha.

Pertama-tama dilakukan penentuan laba-rugi dari aktivitas usaha dengan tujuan untuk menyajikan keadaan yang sesungguhnya mengenai kemampuan perusahaan dalam mencapai laba dari kegiatan utama. Sesudah tahapan penentuan laba-rugi usaha, baru diikuti dengan penentuan laba­rugi dari aktivitas di luar usaha.


PERUSAHAAN TRANSPORTASI WISANGGENI
LAPORAN RUGI – LABA
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2003

Pendapatana Usaha
Jasa Angkutan ……………………………………………………..  Rp.34.000

Biaya – biaya Usaha
Sewa Garasi ………………………. 3.000
Sewa Kantor ………………………  2.000
Gaji Sopir dan Kernet …………….. 8.000
Bahan Bakar ………………………  9.000
Raparasi dan Pemeliharaan. …. …    1.000
Retribusi dan parkir ……………….     200
Penyusutan Gedung dan Peralatan ... 1.200
Premi Asuransi ……………………     450                                             24.650
                                                                                                                               
Laba Usaha                                                                                                        9.150

Untung dan Pendapatan diluar Usaha
Pendapatan Bunga ………………. ..     50
Untung Pelepasan Surat Berharga …     25               75

Rugi dan Biaya di luar Usaha
Biaya Bunga ……………………….      75
Rugi Pelepasan Peralatan Kantor ….      15               90

Rugi Bersih di Luar Usaha …………………….                                                    15 
Laba Bersih …………………………………….                                        Rp. 9.135

 
 




















Laporan Rugi-Laba Satu Tahap (Single Step)
Laporan rugi-laba satu tahap adalah laporan rugi-laba yang disajikan dengan satu tahap saja. Pos-pos pendapatan dikumpulkan tanpa memper­dulikan sumber pendapatan tersebut dari kegiatan usaha atau pun di luar usaha. Demikian pula biaya-biayanya, tidak perlu dipisahkan antara biaya usaha dan biaya di luar usaha. Dengan demikian, laba-rugi periodik diperoleh langsung dengan menyelisihkan segenap pendapatan dengan segenap biaya.
Laporan rugi-laba satu tahap tahap sangat sederhana dan mudah disusun, namun tidak menunjukkan kemampuan sesungguhnya dalam mencapai laba dari kegiatan usaha. Agar lebih jelas, di bawah ini disajikan laporan rugi-laba Perusahaan Transportasi Wisanggeni dalam bentuk satu tahap yang secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

PERUSAHAAN TRANSPORTASI WISANGGENI
LAPORAN RUGI - LABA
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2003

Pendapatan
Jasa angkutan                                         34.000
Bunga                                                            50
Untung pelepasan surat berharga                  25
                                                                                         Rp 34.075

Biaya
Sewa garasi                                               3.000
Sewa kantor                                              2.000
Gaji                                                           8.000
Bahan bakar                                              9.000
Pemeliharaan                                             1.000
Parkir                                                            200
Penyusutan peralatan                                1.200
Premi asuransi                                              450
Bunga                                                             75
Rugi pelepasan alat kantor                             15
                                                                                         Rp 24.940

Laba bersih                                                                           Rp   9.135



C.  2. MANFAAT LAPORAN RUGI-LABA
Laporan rugi-laba menyajikan kesuksesan atau kegagalan perusahaan selama satu perioda tertentu, dan inilah daya tarik paling besar dari sebuah laporan keuangan.
Apabila pada suatu perioda perusahaan memperoleh laba, artinya pendapatan-pendapatan yang dicapai melampaui biaya-biaya yang digu­nakan untuk mencapainya. Bersama dengan laporan rugi-laba perioda­ perioda sebelumnya, secara simultan akan disusun sebuah kecenderungan untuk mengestimasi rugi-laba yang mungkin di masa yang akan datang.
Berikut ini beberapa manfaat laporan rugi-laba yang dapat dike­tengahkan:
Laporan rugi-laba merupakan tolok ukur keberhasilan perusahaan.  
Dengan menganalisa laporan rugi-laba, para pengguna dapat menilai kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber-sumber ekonomi perusahaan agar berhasil guna dan berdaya guna.
Laporan rugi-laba merupakan titik pangkal penaksiran keberhasilan perusahaan pada perioda berikutnya. Masing-masing pendapatan dan biaya dianalisa secara simultan bersama-sama pendapatan dan biaya pada perioda-perioda yang telah lalu. Dari situ dapat disusun kecenderungan pendapatan dan biaya pada perioda  berikutnya.
Laporan rugi-laba merupakan media untuk menilai tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (rentabilitas ekonomi atau return on investment (ROI)).. Semakin besar laba yang diperoleh dari usaha utama perusahaan, maka semakin tinggi rentabilitas tersebut.

D.        LAPORAN PERUBAHAN MODAL
Laporan perubahan modal adalah laporan keuangan yang secara sistematis menyajikan informasi mengenai perubahan modal perusahaan akibat operasi perusahaan dan transaksi dengan pemilik pada satu perioda akuntansi tertentu.
Laporan Perubahan Modal Perusahaan Perseorangan
Pemilik perusahaan perseorangan adalah individu tertentu. Pada saat pertama kali perusahaan didirikan dan mulai beroperasi, modal perusahaan merupakan kontribusi dari pemiliknya. Tambahan modal dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu :
Laba bersih yang diperoleh.
Setoran tambahan dari pemilik
Sedangkan penggunaan sumber ekonomi perusahaan untuk membelanjai kepentingan pribadi pemiliknya (prive) merupakan pengurang modal. Berikut ini disajikan contoh laporan perubahan modal Perusahaan RAKHMAT.

PERUSAHAAN RAKHMAT
LAPORAN PERUBAHAN MODAL
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2003

Modal Tuan Rakhmat per 1 Januari 2003 ………………………        Rp. 18.000
Ditambah :
Setoran tambahan dari Pemilik ……. Rp. 4.000
Laba Bersih ………………………..        8.000

Jumlah tambahan Modal ………………………                                  12.000
                                                                                                                      30.000
Dikurangi :
Prive Tuan Rakhmat                                                                                3.000
Modal Tuan Rakhmat per 31 desember 2003                                        Rp. 27.000


 
 















Share this article :

2 komentar:

Budayakan Berkomentar dengan Baik dan Sopan :)

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arifin Budi Purnomo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger